KST Cangar sebagai Pusat Riset Unggulan Universitas Brawijaya
Universitas Brawijaya (UB) mengenalkan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cangar, Kota Batu kepada mahasiswa internasional.
MALANG – Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat jejaring internasionalnya melalui International Immersion Program bersama Swinburne University of Technology, Australia. Salah satu rangkaian program tersebut adalah kunjungan lapangan mahasiswa Swinburne ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cangar, Kota Batu, Rabu (15/7/2026).
Direktur Direktorat Inovasi, Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) UB, Dr. Mohammad Iqbal, S.Sos., M.I.B., DBA., mengatakan bahwa mahasiswa asing diperkenalkan mengenal potensi riset vulkanologi, geotermal, dan pengelolaan kawasan berbasis agro-eco-sustainable tourism.
“Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan KST Cangar kepada mahasiswa Swinburne yang memiliki karakteristik berbeda dengan lab di Australia,” ujarnya.
Lanjutnya, ketika mahasiswa dibawa ke Laboratorium Vulkanologi UB, mereka diperlihatkan berbagai aktivitas penelitian mengenai gunung api beserta teknologi pendukungnya. Hal ini menjadi menarik bagi mereka karena di Australia tidak memiliki gunung berapi aktif.
“Mereka terkejut kita punya teknologi yang mungkin tidak dimiliki di Australia, karena disana tidak ada gunung berapi,” tambahnya.
Adanya ketertarikan tersebut, Iqbal berharap akan tercipta pengembangan kolaborasi internasional, baik dalam bentuk joint research maupun joint publication antara peneliti Universitas Brawijaya dan Swinburne University of Technology.
Ia menambahkan bahwa sebelumnya mahasiswa dan dosen Swinburne telah melaksanakan kolaborasi dalam menyamakan perspektif pengetahuan bersama Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB.
Kedepan, Iqbal mengatakan bahwa pihaknya berencana akan mengembangkan Asia-Pacific Platform for Innovative Planet, sebuah pusat kolaborasi riset yang melibatkan Universitas Brawijaya, Swinburne University of Technology, serta sejumlah perguruan tinggi di Jepang dan Vietnam.
“Kita masih akan mengembangkan Asia-Pacific Platform for Innovative Planet bersama Swinburne dan beberapa universitas luar negeri lainnya,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Universitas Brawijaya juga tengah memproses pengadaan salah satu teknologi hasil invensi Swinburne yang akan digunakan peneliti UB.
“Jadi kita juga mengadopsi salah satu invensi Swinburne yang akan digunakan para peneliti kita terkait ilmu geothermal, vulkanologi, dan lainnya,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa Swinburne University, Jane, mengatakan bahwa dirinya mendapatkan banyak hal baru ketika menjalani program ini. Menurutnya, banyak hal yang berbeda dari Universitas Brawijaya yang tidak dimiliki oleh kampusnya.
“Saya disini mendapatkan banyak pengalaman, juga tau perbedaan universitas kami dan yang universitas di Indonesia,” katanya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


