Advertisement
Pendidikan

Disabilitas Asal Kediri Tembus Sastra Inggris Unesa Lewat Jalur KIP Kuliah

Zahira Dewi Kirana Lestari, penyandang disabilitas asal Kediri, berhasil diterima di S-1 Sastra Inggris Unesa melalui jalur KIP Kuliah.

TIMES Indonesia,
Disabilitas Asal Kediri Tembus Sastra Inggris Unesa Lewat Jalur KIP Kuliah
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., saat menyambangi langsung kediaman Zahira di Kediri, beberapa waktu lalu. (FOTO: Humas Unesa)
A-AA+

SURABAYA Keterbatasan fisik dan ekonomi tidak menyurutkan semangat Zahira Dewi Kirana Lestari untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Anak penjual toko kelontong dari Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini berhasil diterima di Program Studi S-1 Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Setiap hari, usai pulang dari MAN 3 Kediri, penyandang disabilitas daksa tersebut terbiasa membantu ibunya melayani pembeli di toko kelontong sederhana milik keluarganya. Di sela-sela kesibukannya, Zahira memelihara impian untuk menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Advertisement

"Dari SMA memang sudah ingin kuliah. Saya pilih Surabaya karena sejak kecil pernah kontrol kesehatan di sana, jadi merasa lebih familiar," ujar Zahira, Kamis (23/7/2026).

Ketertarikan Zahira pada bahasa Inggris tumbuh dari hobinya mendengarkan musik, menonton film, dan membaca literatur berbahasa asing. Minat ini memantapkan langkahnya memilih Program Studi Sastra Inggris di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa.

Zahira bahkan telah menyusun target masa depan saat memasuki bangku perkuliahan kelak, salah satunya berambisi mengikuti program pertukaran mahasiswa ke luar negeri.

"Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain. Kalau ada kesempatan, saya ingin mencoba exchange ke luar negeri," tuturnya optimistis.

Rekam jejak akademik Zahira terbilang berprestasi. Ahmad Fauzi, guru sejarah sekaligus wali kelasnya di MAN 3 Kediri, mengenalnya sebagai sosok yang supel dan aktif dalam Olimpiade Sains Madrasah (OSM).

Advertisement

"Zahira anak yang ceria, supel, dan aktif di kelas. Kami di sekolah terus mendukung persiapannya hingga akhirnya lolos di Unesa," kata Fauzi.

Komitmen Unesa Kawal Mahasiswa KIP Kuliah

Perjuangan Zahira mendapat perhatian dari pihak Unesa. Perguruan tinggi tersebut memastikan pendampingan bagi penerima KIP Kuliah tidak hanya berupa bantuan biaya pendidikan, tetapi juga mencakup fasilitas akademik, kebutuhan tempat tinggal, hingga akses pengembangan diri.

Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menyambangi langsung kediaman Zahira di Kediri beberapa waktu lalu.

Martadi menegaskan bahwa proses seleksi penerima KIP Kuliah dilakukan secara presisi agar tepat sasaran.

"Kami melihat berbagai aspek, mulai dari kondisi ekonomi, prestasi, hingga motivasi calon mahasiswa. Penerima KIP Kuliah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, baik dalam organisasi, prestasi akademik, hingga program pertukaran mahasiswa internasional," tegas Martadi.

Bagi Unesa, kisah Zahira menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik maupun finansial bukan penghalang bagi talenta muda untuk meraih masa depan melalui pendidikan tinggi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Siti Nur Faizah
PenulisSiti Nur FaizahSarjana Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Jurnalis TIMES Indonesia di Surabaya sejak 2021. Aktif menulis di Pemerintahan, Politik, Hukum, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia