Advertisement
Pendidikan

Budayawan Taufik Monyong Soroti Kekeliruan Mulok di Jatim, Aksara Jawa Disamakan dengan Bahasa Daerah

Budayawan Taufik Monyong menilai kurikulum muatan lokal di Jawa Timur keliru karena menyamakan bahasa daerah dengan aksara daerah. Ia mendorong pembenahan kurikulum dan peningkatan kompetensi guru.

TIMES Indonesia,
Budayawan Taufik Monyong Soroti Kekeliruan Mulok di Jatim, Aksara Jawa Disamakan dengan Bahasa Daerah
Budayawan Jatim, Taufik Monyong saat menjelaskan pentingnya pemisahan kurikulum Aksara dan Bahasa Jawa. (Foto: Zisti Shinta/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Budayawan sekaligus penggagas Kartu Aksara Jawa, Taufik Monyong menyebut ada kekeliruan konseptual yang selama bertahun-tahun dinilai terjadi dalam pelaksanaan muatan lokal (mulok) di Jawa Timur. Pembelajaran bahasa daerah kerap disamakan dengan pembelajaran aksara daerah, padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda secara mendasar.

Menurut Taufik, penguasaan aksara daerah bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi menjadi pintu untuk memahami kembali khazanah ilmu pengetahuan, sejarah, dan peradaban Nusantara yang tersimpan dalam berbagai naskah kuno.

Advertisement

"Pintunya kemajuan bangsa itu adalah memahami dan membaca lagi aksara milik kita sendiri. Kenapa kita lebih bangga dan senang membaca tulisan bangsa lain atau tulisan asing, tapi justru buta huruf terhadap tulisan dari tanah lahir kita sendiri?" ujar Taufik Monyong, usai peluncuran media edukasi visual tersebut di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Kamis (24/7/2026).

Ia menilai implementasi Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 tentang Muatan Lokal Bahasa Daerah masih belum sepenuhnya memberikan ruang bagi pembelajaran aksara. Padahal, regulasi tersebut mencakup berbagai bahasa daerah, seperti Madura, Osing, Mendalungan, Arekan, dan Panaragan.

Menurutnya, pembelajaran di sekolah selama ini masih berfokus pada aspek bahasa lisan, sementara pemahaman terhadap sistem aksara belum menjadi perhatian utama.

"Selama ini di sekolah yang diajarkan itu Bahasa Jawa. Padahal bahasa dan aksara itu beda. Bahasa itu tuturan verbalnya, sedangkan aksara itu sistem simbol tulisannya. Aksara Jawa itu sifatnya universal. Ia adalah media tulis yang bisa digunakan untuk menuliskan bahasa Madura, Osing, bahkan Bahasa Indonesia sekalipun," jelasnya.

Taufik menilai kesalahpahaman tersebut berdampak pada rendahnya kemampuan generasi muda membaca peninggalan sejarah, seperti manuskrip kuno, arsip, maupun prasasti yang menggunakan aksara daerah.

Advertisement

Sebagai upaya menghadirkan metode pembelajaran yang lebih mudah dipahami, ia mengembangkan Kartu Aksara Jawa sebagai media edukasi interaktif. Menurutnya, pendekatan visual dan berbasis permainan lebih relevan bagi peserta didik dibandingkan metode pembelajaran yang hanya mengandalkan buku atau kamus.

"Kalau cuma bikin kamus, semuanya sudah ada di perpustakaan. Tapi anak-anak sekarang butuh metode yang membuat mereka 'senyawa' dengan tulisan itu. Makanya saya dorong pendekatan visual dan oral ini," katanya.

Meski demikian, Taufik menegaskan bahwa pembaruan metode pembelajaran saja tidak cukup. Ia menilai peningkatan kapasitas guru dan pembenahan kurikulum menjadi langkah penting agar pemahaman mengenai perbedaan bahasa dan aksara dapat diterapkan secara tepat di sekolah.

"Guru-guru harus dipahamkan dulu soal beda aksara dan bahasa ini. Kurikulumnya yang harus dibenahi dari atas. Jangan sampai anak-anak kita tidak kenal warisan sejarahnya sendiri hanya karena kita salah mengajarkannya di sekolah," ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Zisti Shinta Maharani
PenulisZisti Shinta MaharaniPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak November 2023. Fokus di bidang politik, pemerintahan, gaya hidup, seni budaya, teknologi serta isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia