MALANG – Dinas Pendidikan mendapatkan penghargaan inovasi daerah atas program Sapu Bersih Anak Tidak Sekolah (Saber ATS) dari Pemkab Malang melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) tahun ini.
Inovasi Sapu Bersih Anak Tidak Sekolah diinisiasi Dinas Pendidikan Kabupaten Malang sejak 2024 lalu, yang bertujuan menemukan, mendata, dan mengembalikan anak usia sekolah agar bisa kembali mengenyam pendidikan berkualitas.
Program ini dilakukan secara khusus, yang juga bekerja sama dengan berbagai pihak di tingkat kecamatan hingga desa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Bagus Sulistyawan mengungkapkan, sejauh ini Program ATS telah berhasil menurunkan angka anak putus sekolah.
"Masih adanya anak yang belum pernah mendapatkan pendidikan formal juga kami sisir, melibatkan berbagai pihak melalui satuan tugas di 33 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang," kata Bagus, Minggu (26/7/2026).
Inovasi Saber ATS (Sapu Bersih Anak Tidak Sekolah) Dinas Pendidikan Kabupaten Malang sendiri sebelumnya mendapatkan penghargaan Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Provinsi Jawa Timur 2025 dalam kategori Pemberantasan Kemiskinan, pada Desember 2025 lalu.
Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Zia Ulhaq menyebut, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama tingginya ATS. Selain itu, praktik pernikahan dini juga turut memengaruhi.
“Mayoritas karena kendala ekonomi. Masih banyak anak tidak sekolah, meski akses pendidikan sendiri sebenarnya sudah tersedia di semua jenjang pendidikan,” kata Zia.
Menurutnya, upaya menekan jumlah ATS membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Program Saber ATS untuk menekan angka anak putus sekolah perlu didukung berbagai intervensi, seperti beasiswa, program orang tua asuh, serta dukungan CSR dari perusahaan.
Guru Inovatif Terima Apresiasi Inovasi IGA
Penghargaan juga didapatkan para guru, yang mendapatkan nilai kematangan inovasi tertinggi berdasarkan penilaian Innovative Government Award (IGA) 2025 lalu.
Lima guru dan satu tim sekolah dasar dinobatkan sebagai inovator terbaik kategori tenaga pendidik. Rahayu Tri Pamungkas dari SD Negeri 3 Sukopuro Jabung, meraih penghargaan lewat inovasi SAMI SALEM atau Satu Minggu Satu Lembar. Program literasi ini dirancang untuk membentuk generasi literat dan meningkatkan hasil pembelajaran siswa.
Berikutnya, Amaliya Dyah Erviana dari SD Negeri 1 Mulyoagung Dau, yang dinobatkan atas inovasi Hati Riang Pembelajaran Nyaman (HARAPAN). Inovasi ini fokus pada pengembangan metode pembelajaran yang lebih menarik di sekolah dasar. Khoirun Naimah dari SD Negeri 1 Bendosari Pujon membawa inovasi STIFFIN SMART. Inovasi ini menerapkan pembelajaran sesuai 5 mesin kecerdasan anak, yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting.
Novi Dwi Widyastuti dari SD Negeri 2 Karangwidoro Dau juga mendapat penghargaan atas GEMA CERIA (Gerakan Mendengar, Membaca, Menulis, Memahami, dan Menceritakan Kembali Isi Cerita). Program ini menguatkan kemampuan literasi dasar dan pemahaman membaca siswa menyeluruh.
Sementara Tim SD Negeri 1 Mulyoagung Dau, juga meraih penghargaan dengan inovasi SABERSA atau Sabtu Bersih dan Sehat. Kegiatan mingguan ini menanamkan karakter cinta kebersihan lingkungan dan kesehatan sejak dini melalui kerja bakti.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah, kelima guru tersebut akan mendapat fasilitas pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) atas karya inovasinya.
Secara khusus, Pemkab Malang memberi penghargaan kepada tiga guru dengan jumlah inovasi terbanyak. Mereka adalah Rahayu Tri Pamungkas, Novi Dwi Widyastuti, dan Faridatul Hasanah, masing-masing berhasil menciptakan dua inovasi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.