Advertisement
Pendidikan

Histology Meets Heritage, Kolaborasi FK UB dan USM Padukan Sains Histologi dengan Warisan Budaya

Fakultas Kedokteran UB dan Universiti Sains Malaysia menggelar Histology Meets Heritage, mengintegrasikan histologi dan batik sebagai inovasi pembelajaran sekaligus memperkuat kolaborasi Indonesia-Malaysia.

TIMES Indonesia,
Histology Meets Heritage, Kolaborasi FK UB dan USM Padukan Sains Histologi dengan Warisan Budaya
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dr. Indriati Dwi Rahayu, M.Kes., saat memberikan kuliah umum di Muzium Anatomi Universiti Sains Malaysia, Kelantan, Senin (27/7/2026). (foto: FK UB)
A-AA+

MALAYSIA Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) bersama Universiti Sains Malaysia (USM) memperkuat kerja sama internasional melalui penyelenggaraan Histology Meets Heritage di Muzium Anatomi USM Kelantan, Senin (27/7/2026). Program ini mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, dan pelestarian budaya dalam satu rangkaian pembelajaran berbasis sains dan seni.

Kegiatan menghadirkan dosen FK UB, dr. Indriati Dwi Rahayu, M.Kes., bersama Wike Astrid Cahayani, M.Biomed., sebagai narasumber utama. Workshop juga didukung para dosen USM sebagai fasilitator.

Advertisement

Sebanyak 21 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa seni, dan pengrajin batik mengikuti kegiatan tersebut. Keberagaman latar belakang peserta menciptakan ruang kolaborasi yang mempertemukan ilmu kesehatan, seni, pendidikan, dan industri kreatif.

FK UB di kelantan
Suasana kuliah umum sekaligus workshop oleh tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di Muzium Anatomi Universiti Sains Malaysia, Kelantan, Senin (27/7/2026). (foto: FK UB)

Rangkaian kegiatan diawali dengan kuliah umum mengenai histologi sebagai ilmu dasar kedokteran sekaligus memperkenalkan potensi citra mikroskopis jaringan tubuh sebagai inspirasi penciptaan karya seni. Setelah itu, peserta mengikuti workshop yang mengubah struktur histologi menjadi motif batik bernilai estetika, edukatif, dan filosofis.

Melalui sesi diskusi dan evaluasi, peserta saling bertukar pengalaman, mengembangkan gagasan kreatif, serta mengeksplorasi peluang inovasi di bidang pendidikan dan budaya.

Pendekatan interdisipliner yang diterapkan dalam program ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat melalui karya budaya. Transformasi struktur histologi menjadi motif batik menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan menarik sehingga diharapkan mampu meningkatkan literasi sains sekaligus mengembangkan kreativitas mahasiswa.

Program ini juga mengadopsi pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM). Melalui metode pembelajaran aktif, peserta didorong mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah melalui pengalaman belajar yang autentik.

Advertisement

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan pelaku industri kreatif menjadi bukti bahwa sinergi lintas disiplin mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan maupun masyarakat.

FK UB
Serah terima cendera mata karya kolaborasi UB dan USM. Desain ini menggabungkan Wau, layang-layang khas Malaysia dan motif batik Truntum Indonesia, bergambar sel saraf yang saling tersambung untuk melambangkan sinergi dan kolaborasi kedua lembaga. (foto: FK UB)

Lebih dari sekadar workshop, Histology Meets Heritage menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis antara Universitas Brawijaya dan Universiti Sains Malaysia. Kolaborasi ini tidak hanya mempererat hubungan antarinstitusi pendidikan tinggi, tetapi juga memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia melalui pengembangan warisan budaya serumpun yang berbasis ilmu pengetahuan.

Dengan mengangkat batik sebagai media pembelajaran dan ekspresi budaya, kedua perguruan tinggi menunjukkan komitmen untuk melestarikan budaya sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang berkelanjutan.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Ke depan, Universitas Brawijaya dan Universiti Sains Malaysia berkomitmen mengembangkan lebih banyak program kolaboratif yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, dan pelestarian budaya. Melalui semangat kolaborasi lintas negara, Histology Meets Heritage diharapkan menjadi model pembelajaran inovatif yang dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi sekaligus memperkuat hubungan akademik dan budaya di kawasan Asia Tenggara. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia