Libatkan 1.152 Mitra, 16 Ribu Mahasiswa Unesa Jalani Program Mobilitas Akademik
Sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa diterjunkan dalam Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik untuk belajar dan memberi solusi nyata di masyarakat.
SURABAYA – Sebanyak 16.000 mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) akan belajar langsung di tengah masyarakat selama empat bulan melalui Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik. Lewat pengalaman tersebut, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi akademik, tetapi juga ditantang memahami persoalan riil sekaligus menghadirkan solusi bersama masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai mitra.
Melibatkan 1.152 mitra di dalam dan luar negeri, program ini dirancang inklusif dengan melibatkan mahasiswa afirmasi serta mahasiswa penyandang disabilitas. Program tersebut mempertemukan proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga ditantang memperkuat kemampuan berkolaborasi, beradaptasi, memecahkan persoalan, serta membangun empati melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menjelaskan bahwa mahasiswa akan diterjunkan ke masyarakat untuk belajar dari berbagai realitas sosial dan ditantang menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media," ujar Fauzan saat Kick-off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027, Senin (27/7/2026).
"Dengan demikian, karya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, melainkan juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat," imbuhnya.
Sementara itu, Rektor Unesa, Nurhasan, menyebut program mobilitas akademik ini sebagai laboratorium kehidupan. Tempat ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah melalui pengalaman nyata di dunia usaha, industri, dan tengah masyarakat.
"Program ini sejalan dengan misi pembangunan nasional. Di era global saat ini, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kerja sama tim," tutur Nurhasan.
9 Skema Kegiatan dan Inklusivitas Program
Selama mengikuti program, mahasiswa terbagi ke dalam sembilan skema kegiatan yang dapat dipilih, yaitu magang, Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), riset, pertukaran mahasiswa, KKN Tematik, wirausaha, studi independen, asistensi mengajar, serta proyek kemanusiaan.
Ragam program tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar sesuai bidang keilmuan dan minat, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
Aldito Christian Putra, mahasiswa S-1 Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik (FT) Unesa, menilai program ini membuka kesempatannya untuk mengembangkan kompetensi akademik dan keterampilan profesional melalui pengalaman langsung di dunia kerja.
Ia mengikuti program magang di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia sebagai programmer dengan tugas mengembangkan sistem berbasis web, memperbaiki kendala teknis, serta berkolaborasi dalam pengujian sistem.
"Saya jadi bisa melatih soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan profesionalisme," ungkap Aldito.
Peluncuran program ditandai dengan penyematan rompi kepada 12 mahasiswa yang merepresentasikan keberagaman peserta. Perwakilan tersebut terdiri atas empat mahasiswa penyandang disabilitas, dua mahasiswa asal Papua, dua mahasiswa asing, dan empat mahasiswa reguler.
Pada kesempatan yang sama, Unesa juga memperkenalkan maskot baru bernama Si Prio—akronim dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis—sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-62 Unesa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


