Pande Besi Gresik 'Panen' Menjelang Idul Adha
Di bengkel kerjanya yang berukuran 4x4 di Jalan Sunan Giri, Gang 4 Kelurahan Kawisanyar, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

GRESIK – Di bengkel kerjanya yang berukuran 4x4 di Jalan Sunan Giri, Gang 4 Kelurahan Kawisanyar, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim) Iksan 63 tahun, setiap hari bekerja memenuhi pesanan golok dan aneka kebutuhan alat-alat potong lainnya.
Bersama dua orang karyawannya yang juga telah lanjut usia, merupakan satu-satunya pandai besi yang masih tersisa di Kecamatan Kebomas, Iksan mengaku menjelang Idul Adha, pesanan alat pemotong daging sapi meningkat 30 persen dibanding hari biasa.
Namun, peningkatan tahun ini jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 60 persen. "Memang pesanan saat ini naik tapi jauh dibanding tahun lalu," ujarnya, Jumat, (26/08/2016).
Menurut Iksan, penyebabnya karena lebaran Idul Adha saat ini berbarengan dengan tahun ajaran baru sekolah dan peringatan Hari Kemerdekaan yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.
"Jadi, penghasilan pandai besi itu tergantung pada bagusnya penghasilan petani. Kalau penghasilan petani naik, kita juga naik," ungkap Iksan.
Lebih jauh Iksan mengatakan, pelanggannya yang biasa pesan tujuh pisau saat ini hanya pesan tiga bilah saja, bahkan sejumlah pelanggannya memilih mengasah kembali pisaunya tahun lalu dari pada harus membeli yang baru.
Meski demikian, Iksan tetap menambah jam kerja untuk memenuhi naiknya permintaan. Jika biasanya mulai bekerja jam 07.00 hingga 16.00 WIB saat ini Iksan mulai bekerja jam 06.40 hingga 16.30 WIB. "Penambahan jam kerja ini dilakukan sejak pesanan mulai meningkat pekan lalu," ujarnya.
Selama ini, Iksan memproduksi hasil kerajinan berupa Pisau, Golok, Parang, Arit, Kapak dan lain sebagainya dengan harga bervariasi mulai Rp. 12 ribu hingga Rp150 ribu, harga itu tergantung jenis barang.
Sejak menggantikan orang tuanya sebagai pandai besi pada tahun 1974, Iksan konsisten menjaga kualitas produksi, terutama bahan baku yakni baja bekas berkualitas.
"Saya tidak main-main dengan kualitas produk, karena itu saya mampu bertahan 42 tahun sebagai pandai besi', pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

