Advertisement
Peristiwa Daerah

777 Orang Membawa "Air Si Kopyah" dalam Festival Gunung Slamet II

Dalam Festival Gunung Slamet II, sebanyak 777 orang yang berpakaian adat jawa, dengan membawa tempat air dari bambu yang disebutlodhong. Mereka dikerahkan untuk mengambil dan membawa air dari sumber mata air Si Kopyah.

TIMES Indonesia,
777 Orang Membawa "Air Si Kopyah" dalam Festival Gunung Slamet II
777 orang pembawa air dari sumber mata air Si Kopyah, pada Festival Gunung Slamet II, Kamis (13/10/2016) (Foto: Dinbudparpora Purbalingga For Purbalingga TIMES)
A-AA+

PURBALINGGA Dalam Festival Gunung Slamet II, sebanyak 777 orang yang berpakaian adat jawa, dengan membawa tempat air dari bambu yang disebutlodhong. Mereka dikerahkan untuk mengambil dan membawa air dari sumber mata air Si Kopyah.

Prosesi pengambilan air, diawali dengan tembang Jawa Dhandang Gulo yang berkumandang di Dukuh Kaliurip Gunung, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Kamis (13/10/2016).

Advertisement

Setalah didoakan oleh sesepuh desa setempat, 777 orang yang terdiri dari para ibu-ibu, remaja putri dan para pemuda, kemudian menuju menuju sumber mata air Si Kopyah, yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari dukuh itu.

Dengan melewati jalan setapak di areal tanaman sayuran, dan tanpa menggunakan alas kaki, mereka tampak bersemangat. Dan karena banyaknya pembawa lodhong, prosesi pengambilan air itu memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Setelah air diambil, mereka kembali turun menuju masjid, yang selanjutnya menuju balai desa untuk disemayamkan hingga Sabtu (15/10/2016) besok, untuk kemudian dibawa ke kawasan wisata Lembah Asri yang juga berada di desa tersebut.

Iringan pembawa lodhong diikuti ribuan warga lainnya yang membawa nasi penggel, yaitu nasi jagung atau nasi trigi. Nasi yang berisi tiga jenis lauk dan sayur, seperti sayur oseng pepaya, tempe goreng, dan ikan asin, kemudian dimakan bersama.

“Kearifan lokal warga masyarakat yang selalu menjaga sumber mata air kehidupan dan melestarikan lingkungannya, kami kemas dalam sebuah prosesi  yang menarik dalam rangkaian Festival Gunung Slamet,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Subeno, Kamis (13/10/2016).

Advertisement

Menurut Subeno, FGS yang digelar untuk kali kedua ini, selain melestarikan tradisi warga dalam ruwatan agung, juga untuk mengangkat citra pariwisata Purbalingga khususnya di Desa Wisata Serang.

Bupati Purbalingga, Tasdi, dalam kesempatan tersebut mengapreasi kegiatan Festival Gunung Slamet ke-II ini. “Saya berharap FGS tahun depan semakin meriah, dan saya akan membantu seragam bagi warga yang terlibat. Paling tidak baju dan kain jaritnya seragam, akan saya siapkan 1000 stel,” janji Tasdi.

Prosesi pengambilan air dengan 777 lodhong bambu dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan MURI diterima oleh Bupati Purbalingga Tasdi yang didampingi wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Edi Siswanto
PenulisEdi Siswanto Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia