Advertisement
Peristiwa Daerah

Mengintip Jejak Peninggalan Kolonial di Museum KA Bondowoso

Suasana di pintu masuk Museum Kereta Api (KA), Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat menatap bangunan kuno itu.

TIMES Indonesia,
Mengintip Jejak Peninggalan Kolonial di Museum KA Bondowoso
Museum Kereta Api di Bondowoso. (Foto: Dokumentasi TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Suasana di pintu masuk Museum Kereta Api (KA), Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat menatap bangunan kuno itu. Bangunan itu sudah terlihat bersih. Khas bangunan kunonya tetap menjadi karakter, jika bangunan itu adalah Stasiun Kereta Api.

Museum Kereta Api (KA) Kabupaten Bondowoso, yang terletak di Jalan Kolonel Sugiono, Kabupaten Bondowoso, sejarahnya memang Stasiun Kereta Api. Kini, sudah menjadi Museum KA satu-satunya yang ada di Jawa Timur.

Advertisement

Bangunan Stasiun itu beralih fungsi menjadi Museum KA sejak diresmikan pada 17 Agustus 2016 lalu oleh Bupati Bondowoso, H Amin Said Husni dan Vice Precident Daerah Operasional 9 (Daop 9) Jember, Rudi Haryono.

Bangunan Stasiun KA Bondowoso memang terlihat cukup sederhana. Namun masih terlihat sangat kental dengan nuansa kolonial. Bangunan itu berdiri sejak tahun 1897 silam. Di zaman kolonial Belanda, Stasiun KA Bondowoso itu untuk lintas Kalisat-Panarukan.

Saat itu, banyak dilintasi kereta api angkutan barang yang mengangkut komoditas tembakau, kopi, dan cengkeh. Maklum, Kota yang kini dipimpin H Amin Said Husni itu adalah penghasil kopi yang tak hanya dinikmati warga Indonesia. Tapi sudah menjadi minuman idola masyarakat dunia.

Dari cerita Kepala Stasiun KA Kabupaten Bondowoso, Sugeng, yang kini menjaga di Museum KA itu, Stasiun yang berada di ketinggian 253 mdpl ini, hingga kini masih bangunan asli sejak berdiri. Hanya ada beberapa saja yang dibenahi.

gerbong-bbxmtz.jpg

Yang dibenahi kata Sugeng, hanya atap yang bocor dan mengecat ulang bangunan yang ada. Karena akan menjadi Museum KA. “Dicat supaya terlihat lebih segar dan bersih,” katanya, saat ditemui TIMES Indonesia, Kamis (15/12/2016).

Bangunan tersebut memang semgaja tidak ada yang diubah supaya nuansanya terasa klasik. “Ini bangunan heritage,” ujar Sugeng.

Sejak tahun 2004 lalu, Stasiun KA itu merupakan jalur Kereta Api yang sudah ‘mati’ alias tak beroperasi. Jalurnya ditutup secara resmi dengan alasan banyak alat sudah rusak dan okupansi penumpang yang sudah sangat minim.

Di jalur yang menempuh 70 kilo meter itu, banyak melayani kereta untuk penumpang lokal Panarukan-Jember. Selain itu juga untuk mengangkut barang. “Jalur disini, terakhir beroperasi pada tahun 2004 silam,” kenang Sugeng.

Pernah ada rencana, jalur Kalisat-Panarukan itu akan dibuka buka kembali karena pelabuhan Panarukan dinilai sudah ramai. Namun, rencana itu tidak terealisasi. Akhirnya, kini diubah menjadi Museum Kereta Api.

Suasana di dalam Museum KA, terlihat gaya bangunan neo-gotik ala Kolonial. Lantai museum ditutupi ubin berwarna cokelat. Suasana yang awal Stasiun KA itu kini sudah berubah menjadi bangunan Museum yang dibagi menjadi tiga ruangan.

gerbong-czHE6e.jpg

Di ruangan pertama, terdapat tiga buah papan reklame yang berisi penjelasan tentang sejarah perkeretapian di Indonesia dan Bondowoso.

Di banyak dinding, terdapat beberapa foto kondisi Kereta Api di masa zaman kolonial Belanda, saat menguasai Indonesia. Namun, di banyak foto yang ada, ada beberapa foto yang terlihat menarik pandangan orang yang datang. Foto itu adalah foto Lokomotif Gerbong Maut.

“Nah, disini kita punya foto Gerbong Maut yang sudah jadi bagian sejarah rakyat Bondowoso dan Indonesia pada umumnya. Biasanya, wisatawan kesini banyak yang hanya untuk melihat Gerbong Maut,” kata Sugeng.

Dari sejarahnya, Gerbong Maut adalah kejadian yang tak bisa dilupakan rakyat Indonesia. Tak Jauh dari lokasi Museum juga terdapat monumen Gerbong Maut, tepatnya di sebelah Alun-Alun Bondowoso.

gerbong-dKTNdz.jpg

Gerbong maut itu, dulunya digunakan oleh tentara Belanda untuk membawa para pejuang yang menjadi tahanan dari Penjara Bondowoso ke tempat tahanan di Bubutan Surabaya. Dalam perjalanan, di gerbong yang penuh sesak itu, banyak pejuang yang mati akibat kelelahan dan kelaparan.

Sebanyak 100 tahanan diangkut menggunakan tiga gerbong Kereta Api. Gerbong pertama dan kedua memiliki ventilasi udara, meskipun kecil dan diisi oleh masing-masing 68 tawanan.

Sedangkan gerbong ketiga, diisi oleh 38 tahanan. Namun, gerbong itu tanpa memiliki lobang udara sama sekali. Perjalanan kereta dari Bondowoso ke Surabaya yang memakan waktu, sekitar 20 jam.

Kondisi tersebut membuat tahanan di gerbong ketiga itu menjadi kelelahan dan lemas karena kurang oksigen. Gerbong ketiga yang bernomor GR 10152 itu, hingga ini yang menjadi saksi bisu kekejaman para kolonial Belanda atas para tahanan pribumi. Gerbong itu kini dipajang di Museum Brawijaya Malang.

Sementara itu, di ruangan kedua di Musem itu, terdapat beberapa benda peninggalan Kereta Api. Ada sebuah mesin ketik yang dipajang dengan ditaruh di lemari khusus. Hanya bisa dilihat tak boleh dibuka.

gerbong-anyarvV7Bj.jpg

Menurut Sugeng, mesin ketik itu adalah yang dahulu digunakan oleh pengelola Stasiun KA Bondowoso, sejak masih dikelola oleh pihak Belanda Staats Spoorwagen (SS).

Untuk dibagian kanan ruangan, terlihat terdapat lemari besi yang menempel di dinding. Lemari besi itu dulunya digunakan untuk menyimpan karcis KA untuk para calon penumpang.

Tak jauh dari mesin ketik, terdapat pesawat telepon yang juga digunakan oleh Staats Spoorwgen untuk berkomunikasi jarak jauh. Pesawat telepon itu mulai dipakai oleh kolonial pada tahun 1926.

Adapun ruangan ketiga, tidak jauh berbeda dengan ruangan pertama. Ada beberapa barang-barang bersejarah yang dipajang. Di rungan itu, juga terdapat tiga buah reklame yang dipasang di dinding.

Dalam reklame itu, tertulis penjelasan tentang sejarah Agresi Militer Belanda serta sejarah Gerbong maut. “Ini sejarah yang harus diketahui generasi saat ini,” celetuk Sugeng.

stasiun-bondowosoaminatusZFqC5.jpg

Sembari menunjukkan benda bersejarah yang dipamerkan di musem itu, Sugeng mengisahkan tujuan diubahnya bangunan itu menjadi musem KA. Menurutnya, tujuan diubah menjadi Museum untuk untuk menjadi wadah penyelamat benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan perkeretaapian.

“Selain itu juga bertujuan untuk menjadi tempat belajar sejarah tentang peristiwa bersejarah yang dekat dengan rakyat Bondowoso yakni Tragedi Gerbong Maut. Generasi Indonesia tak boleh melupakan sejarah gerbong Maut,” katanya.

Museum harus berfungsi sebagai tempat belajar generasi masa depan banga. “Nanti kalau saya mati, jika tetap ada museum ini, generasi muda tak akan pernah melupakan sejarah bangsa sendiri, khususnya Sejarah gerbong Maut,” kata Sugeng memberitahu.

Kondisi Museum yang ada saat ini, memang harus terus ada perbaikan dan aneka inovasi bagaimana menarik perhatian banyak orang terutama untuk lembaga pendidikan dan wisatawan. Karena benda yang dipamerkan adalah bukti sejarah Indonesia.

“Kita masih terus mengumpulkan benda bersejarah yang berkaitan dengan perkeretaapian. Karena yang terkumpul di Museum saat ini memang masih sangat minim,” akunya.

Selain itu, pihak pengelola Museum harus terus melakukan perluasan wilayah agar bisa menjadi wahana wisata sejarah bagi masyarakat, terutama bagi wisatawan yang datang.

“Harus ada inovasi baru supaya wisatawan banyak yang datang ke sini. Karena jika wisatawan kesini, tak hanya melihat benda bersejarah. Tapi banyak ilmu yang didapatnya. Itu manfaat berkunjung ke Museum Sejarah dan wisata edukasi,” katanya.

Saat itu tambah Sugeng, pihaknya masih terus mengumpulkan benda-benda bersejarah dari stasiun lain yang sudah mati tidak beroperasi. Karena Museum Kereta Api Bondowoso itu katanya, merupakan museum Kereta Api pertama di Jawa Timur.

“Hadirnya Museum ini diharapkan bisa menjadi rujukan utama wisata mengetahui sejarah perkeretaapian di Jawa Timur. Silahkan datang ke sini, pasti akan banyak tahu sejerah Indonesia masa Kolonial,” katanya berdana promosi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Aminatus Sofya
PenulisAminatus Sofya Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia