Advertisement
Peristiwa Daerah

Sanggar Narada Gita Tampilkan Gamelan Semara Pegulingan

Sanggar seni Narada Gita, Kabupaten Badung, Bali. Menampilkan tarian dan musik baru untuk gamelan Semara Pegulingan di Pesta Kesenian Bali ke-39 yang bertempat di Kalangan Ayodya Taman Budaya Bali, Rabu (05/07/2017).

TIMES Indonesia,
Sanggar Narada Gita Tampilkan Gamelan Semara Pegulingan
Sanggar Narada Gita saat tampil di Kalangan Ayodya Taman Budaya Bali, Rabu (05/07/2017).(Foto Khadafi/Times Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Sanggar seni Narada Gita, Kabupaten Badung, Bali. Menampilkan tarian dan musik baru untuk gamelan Semara Pegulingan di Pesta Kesenian Bali ke-39 yang bertempat di Kalangan Ayodya Taman Budaya Bali, Rabu (05/07/2017).

Ada beberapa penampilan yang dipersembahkan di dalam PKB ke-39 di antaranya seperti “Langsing Tuban” yang merupakan gamelan Gambuh yang juga sering dimainkan pada gamelan Semara Pegulingan Saih Pitu Gending. Gamelan ini mempunyai identitas yakni adanya perpindahan tangga nada yang digunakan untuk sebuah melodi harmonis dan inovatif.

Advertisement

Penampilan lainnya Gegenggongan merupakan karya dari Wayan Lotring yang terinspirasi dari gending pada gamelan Gegenggongan dan diubah menjadi sebuah tabuh Palegongan.

Sementara Tari Legong Wali yang dipentaskan merupakan Trai Sang Hyang, Rejang, Wayang, Topeng sebagai perwakilan setiap kesenian yang digunakan saat upacara Agama Hindu di Bali. Keempat bentuk tersebut dijadikan satu kesatuan gerak dalam bentuk  “ Tari Legong Wali”.

Kemudian garapan yang dinamakan “But Yeh” yang artinya sumber mata air, atau dapat dikatakan sebagai sumber inspirasi. Sebuah karya musik tercipta karena adanya rangsangan karya musik sebelumnya.

Tari Kreasi “Gitanjali” berarti persembahan. Bunga yang dilambangkan sebagai sesosok perempuan yang begitu wangi, sehingga siapa pun yang mencium aromanya ingin terus mengikutinya kemana ia berada.

Pertunjukan yang terakir yaitu “Batu Meyeh” adalah komposisi baru untuk gamelan yang terinspirasi dari perubahan wujud fisik melalui proses pembekuan dan pencairan di dunia alamai. Penggarap mengibaratkan bagian lagu tersebut dengan pengetahuan atau pola budaya manusia yang walaupun terlihat keras dan mutlak seperti batu selalu akan mencair dalam kondisi tertentu menuruti tekanan-tekanan dunia alami.

Advertisement

Ni Wayan Riandayani Sebagai Wakil Kordinator sekaligus penata tari menjelaskan, persiapan mencapai 4 bulan, serta melibatkan 16 orang penari dan 28 orang penabuh. Ia berharap ke depan khususnya pada sanggar Narada Gita bisa terus melestarikan seni budaya Bali dan orang Bali bisa terus mengembangkan budaya lokalnya dengan budaya lainnya.

“Selama proses penggarapan ini tidak ada kendala yang begitu berarti bagi saya, hanya mengumpulkan orang banyak memang susah tapi kami tetap selalu kompak dalam latihan,” ucapnya.

Menurutnya, menggabungkan tarian itu adalah tari wali di pura itu biasanya dipisahkan hal itu yang membuatnya untuk berkeinginan menggabungkannya menjadi satu garapan tari wali. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhammad Khadafi
PenulisMuhammad Khadafi Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia