Advertisement
Peristiwa Daerah

Petualangan Kiai Imam Moebtadi Simbar, Dari Kediri Sampai Banyuwangi

Nama KH Imam Moebtadi tidak asing bagi masyarakat Banyuwangi. Terutama di daerah Selatan. Seperti di Kecamatan Cluring dan sekitarnya.

TIMES Indonesia,
Petualangan Kiai Imam Moebtadi Simbar, Dari Kediri Sampai Banyuwangi
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Nama KH Imam Moebtadi tidak asing bagi masyarakat Banyuwangi. Terutama di daerah Selatan. Seperti di Kecamatan Cluring dan sekitarnya. Ia adalah pengasuh Pesantren Roudlotul Muta'alimin, Desa Simbar, Kecamatan Cluring, yang memiliki kiprah hingga dipentas nasional. 

Meski memiliki kiprah yang luar biasa di Pesantren Roudlotul Muta'alimin khususnya, maupun di Banyuwangi umumnya, namun tak banyak yang tahu, jika sebenarnya Kiai Moebtadi bukanlah orang Banyuwangi asli. Ia adalah seorang petualang yang senantiasa menebar kemanfaatan dimanapun ia singgah. 

Advertisement

Kiai Moebtadi adalah putra dari pasangan Kiai Muhammad Ishaq dan Nyai Bulqisnatun. Ia lahir pada tahun 1920 di Desa Jarak, Kecamatan Ploso Klaten, Kabupaten Kediri dengan nama kecil Imam Sayubi. Semenjak usia anak-anak, Imam Sayubi giat mencari ilmu. Selain mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Desa Jarak, ia juga mengaji di Pondok Pesantren Jarak Ploso Klaten asuhan KH. Abdul Rozaq. 

Selain belajar keilmuwan, Imam muda juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Sejak usia 18 tahun, ia bergabung dengan jaringan Pandu Ansor NU Ranting Jarak. Dari aktivitas berorganisasi itulah, kelak akan mengantarkannya dalam dunia pergerakan dan politik. 

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Imam Sayubi bekerja di Kementerian Agama. Dari sinilah ia memulai pertualangannya. Ia hijrah dari Kediri ke Panarukan, Situbondo.

Ia pindah ke Panurakan ditemani oleh dua orang temannya. Yaitu, Imam Sujadi, seorang yang ahli pencak silat, dan Anshari yang pandai melantunkan ayat suci al-Quran (qira’at). Selain bekerja, di tempat baru itu, mereka juga berkecimpung di organisasi sebagai kebiasaan yang telah dilakukannya di kampung halaman. Mereka mengabdi di MWC NU Panarukan.

Di Panarukan tersebut, Imam Sayubi berganti nama. Ia lebih dikenal dengan nama Imam Moebtadi. Seiring waktu, kiprah Imam Moebtadi mendapat kepercayaan masyarakat. Ia dilibatkan dalam beberapa program pembangunan. 

Advertisement

Bersama tokoh MWC NU dan tokoh masyarakat Panarukan, mereka mendirikan Masjid Jami’ Panarukan, Pasar Panarukan serta Madrasah pertama di Panarukan. Atas peranannya yang cukup besar itulah, Imam Moebtadi terpilih sebagai ketua Tanfidziyah MWC NU Panarukan.

Imam Moebtadi tidak hanya dikenal sebagai seorang aktivis yang pandai memenejemen organisasi. Tapi, juga dikenal karena kedalaman ilmunya. Lebih-lebih ia pandai sekali berpidato. Materi yang disampaikannya tersusun rapi dan mendalam serta retorikanya mampu membuat audien mendengarkan ceramahnya hingga tuntas. 

Kiprahnya yang cukup menonjol tersebut, membuat ia menjadi tumpuan NU Situbondo. Ketika NU memutuskan menjadi partai politik seusai Muktamar di Palembang pada 1952, ia pun terlibat aktif dalam forum-forum kampanye. Hal ini mengantarkannya menjadi salah satu anggota Konstituante mewakili NU Situbondo. Ia terlibat aktif dalam diskusi dan perdebatan dasar negara yang akan diterapkan oleh Republik Indonesia.

Ketika Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada 1959 dan tahun berikutnya membentuk DPR Gotong Royong, Kiai Moebtadi kembali terpilih. Selain karena kompetensinya, ia juga mendapatkan rekomendasi dari KH. As'ad Syamsul Arifin. Dari sinilah ia banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional kala itu. Baik dari kalangan Nahdliyin sendiri, maupun dari kalangan lain. Interaksi inilah yang kelak membuat karir dan reputasinya semakin moncer. 

*Pindah Ke Banyuwangi* 

Pada dekade 60-an, Kiai Moebtadi berpindah ke Banyuwangi. Kala itu, beliau berpindah karena menikah dengan Siti Musyarafah, keponakan Kiai Abdul Karim, pengasuh PP. Roudlatul Muta'alimin, Simbar, Banyuwangi. Pernikahan ini sendiri merupakan pernikahannya ketiga setelah dua istri sebelumnya telah berpisah. 

Karir politik dan berorganisasi Kiai Moebtadi terus berlanjut kala pindah ke Banyuwangi. Ia kembali aktif di NU Banyuwangi, baik dalam jamiyah maupun di partai NU sendiri. Dari Banyuwangi, Kiai Moebtadi terpilih sebagai anggota MPR-S RI periode 1967-1969.

Selain di legislatif, Kiai Moebtadi juga mengorganisir para buruh nahdliyin Jawa Timur. Ia menjadi Ketua Umum Pengurus Serikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) wilayah Jawa Timur untuk periode tahun 1968-1971. Organisasi ini sebagai lawan tanding dari SOBSI yang menjadi underbow PKI.

Meski sibuk dalam keorganisasian dan politik, Kiai Moebtadi tak melupakan pesantrennya. Ia meneruskan estafet kepengasuhan PP. Roudlotul Muta'alimin peninggalan pamandanya. Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut meningkat menjadi yayasan. Kemudian, pesantren tersebut dilengkapi dengan berbagai pendidikan umum.

Bahkan, KH. Imam Moebtadi sempat membuka cabang Universitas Hasyim Asy’ari di Banyuwangi dan beliau dilantik menjadi pejabat sementara Dekan Fak. Tarbiyah Universitas Hasyim Asy’ari Cabang Banyuwangi periode tahun 1974 -1977.

Perjuangan Kiai Moebtadi tak pernah usai hingga ajal menjemput. Tepat 6 Oktober 1979, Kyai Imam Moebtadi meninggal dunia.Beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Baitul Jabbar di dalam kompleks YPI Roudlotul Muta’allimin Simbar. Berbagai prestasi telah ia torehkan. Khidmat terbaiknya ia persembahkan kepada masyarakat dimanapun ia berada, dari Kediri hingga Banyuwangi, dari daerah hingga nasional. (*)

Penulis adalah Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU di Banyuwangi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia