Peristiwa Daerah

KH An'im Falachuddin: Pesantren dan Santri Menjadi Benteng NKRI

Selasa, 24 Juli 2018 - 20:15 | 49.75k
KH An'im Falachuddin Mahrus, saat sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Ponpes Mambaul Hikam, Blitar, Selasa (24/7/2018). (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)
KH An'im Falachuddin Mahrus, saat sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Ponpes Mambaul Hikam, Blitar, Selasa (24/7/2018). (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, BLITAR – Ditengah maraknya ancaman radikalisme, terorisme dan disintegrasi, KH An'im Falachuddin Mahrus berharap, pesantren dan santri menjadi benteng NKRI dan peejuang Pancasila.

KH An'im Falachuddin Mahrus adalah anggota MPR RI Dapil Jatim VI. Hal tersebut disampaikan saat melakukan sosialisasi kebangsaan di Ponpes Mambaul Hikam, asuhan Gus Shon di Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Advertisement

Dalam kesempatan tersebut, Gus An'im, begitu akrab disapa, menyampaikan pentingnya Pondok Pesantren, Guru Ngaji dan Para Santri untuk dibekali nilai-nilai 4 pilar kebangsaan.

Dalam kesempatan tersebut, Gus An'im menyampaikan bahwa, saat ini bangsa Indonesia tidak lagi menghadapi penjajahan fisik dari bangsa lain.

"Namun, ada makna jihad yang lebih besar lagi, yaitu mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI," katanya.

Beberapa ancaman yang kerap menghantui bangsa ini katanya, adalah faham radikal bertopeng agama, yang akhirnya menodai kesucian agama Islam itu sendiri.

"Dari itu, santri dan pesantren, sangat di butuhkan dalam mengurai kekusutan berpikir dan menjernihkan pemahaman agama yang salah," terangnya.

Sebab, santri memiliki modal berupa pemahaman agama yang kuat dan komprehensif. "Saat belajar agama, para santri tidak sekedar membaca satu kitab referensi saja, melainkan banyak kitab dengan berbagai sudut pandang dan pendapat yang harus dibaca dan dikaji," jelasnya. 

Misalnya, ayat-ayat perang harus dibahas dengan lengkap. Selain itu, juga harus membahas ayat-ayat yang bersifat damai. "Hadits tentang sikap keras nabi kepada umat lain harus dikaji, tetapi sikap nabi yang lembut kepada pemeluk agama lain juga harus dipelajari," pesannya.

Jika santri sudah banyak mengkaji keislaman yang utuh, maka akan lahir proses dialektika yang panjang hingga mendapat kesimpulan yang lengkap dan sempurna. 

"Pemahamannya tentang Islam tak ada radikal. Tidak akan menjadi teroris. Untuk mengantisipasi hal itu, juga bagian dari peran pesantren dan santri sebagai benteng NKRI dan Pejuang Pancasila," tegas KH An'im Falachuddin Mahrus.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Blitar

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES