Dolanan Tradisional Bikin TNI Semakin Dicinta
Ditengah gegap gempita peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 73, ada yang unik terjadi di Dusun Macari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu

BATU – Ditengah gegap gempita peringatan Hari Ulang Tahun HUT TNI ke 73, ada yang unik terjadi di Dusun Macari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jumat (5/10/2018).
Di mana sepulang sekolah, sekelompok bocah berkumpul, kemudian mereka membagi diri menjadi dua kelompok yang berjumlah sama besarnya.
Hari itu mereka bermain perang-perangan. Sambil membawa pedang-pedangan yang terbuat dari kayu mereka pun mulai membagi peran.

“Aku jadi Panglima Besar Sudirman, kamu jadi Belanda saja,” ujar salah satu bocah meminta temannya berperan jadi Tentara Belanda.
Diluar dugaan, bocah ini ternyata menolak menjadi Tentara Belanda. “Aku jadi Pangeran Diponegoro saja,” ujarnya.
Ya, anak-anak ini sedang bermain dolanan tradisi Kepahlawanan yang terus hidup di Dusun Macari yang dikenal warga Kota Batu sebagai Kampung Pejuang saat perang kemerdekaan tahun 1945.
Dolanan perang-perangan ini sudah hidup di 5 generasi, karena itu jangan heran kalau muncul beberapa julukan, seperti Sidik jago pedang-pedangan, Sholihul Hadi jago menyelam.
Karena memang perang-perangan ini tidak hanya terjadi di darat seperti ditengah pepohonan dan ilalang, namun mereka juga perang-perangan di air.
Saat diatas perahu atau saat menyelam di dalam kolam kuno yang disebut Blumbang Macari berukuran kurang lebih 80 x 30 meter persegi dengan kedalaman kolam bervariasi ini.
Mereka juga memanfaatkan 4 rakit, juga ayunan tali yang ada di kolam ini. Permainan ini selain seru, juga mengingatkan anak-anak atas perjuangan para Pahlawan dan kerja keras TNI mempertahankan kemerdekaan. Dolanan tradisional ini bikin TNI semakin dicinta

“Selama ini anak-anak didominasi sosok pahlawan yang digambarkan dalam film seperti Power Rangers, Superman hingga Avatars yang menggeser keteladanan pahlawan pejuang hingga TNI yang menegakkan NKRI,” ujar Ulul Asmi, tokoh masyarakat Dusun Macari.
Lewat permainan ini, menurut Asmi, sosok Pahlawan hingga TNI dihadirkan. “Anak-anak menjadi tahu bahwa sosok Pahlawan itu berangkat dari sosok kebanyakan, hingga dengan kesederhanaannya mereka bahu membahu melawan invasi asing,” jelasnya.
Secara tidak langsung anak-anak mulai mengenali para pahlawan nasional. “Meskipun kadang-kadang Pahlawan yang mereka pilih, tidak berada satu masa yang sama. Lewat imajinasi anak-anak ini, Sudirman bisa saja hadir dalam kesempatan yang sama dengan Diponegoro,” ujar Asmi sambil tersenyum.
Sama seperti anak-anak ini, di masa kecilnya pernah memainkan permainan yang sama. Di eranya ada seorang temannya Sidiq yang menjadi pemain pedang yang tak terkalahkan.
“Dari permainan itu sebenarnya bisa menjadi cerminan ke depannya seperti apa, seperti Pak Kamituwo dahulu dalam permainan itu sudah terlihat gaya kepemimpinannya,” ujar Asmi.
Permainan tradisional yang memungkinkan adanya permainan berbentuk perang perangan bergerilya, renang hingga bermain pedang-pedangan ini terus terjaga di Dusun yang melahirkan 40 pejuang dari Laskar Hizbullah yang beberapa diantaranya meninggal dunia dalam pertempuran di Tretes Pasuruan.
Sholihul Hadi salah satu warga pun mengisahkan betapa serunya permainan tradisional yang hingga saat ini masih disukai anak-anak.
“Permainan itu sampai sekarang masih ada, membuat anak-anak semakin mencintai TNI dan mengenal para pahlawan,” ujarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


