PT BSI Kawasan Tambang Ramah Lingkungan di Banyuwangi

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Perusahaan pertambangan emas Tujuh Bukit, PT Bumi Suksesindo (PT BSI) diklaim sebagai kawasan tambang ramah lingkungan. Sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan kegiatan utama produksi emas dan tembaga, proses eksplorasi PT BSI mengedepankan penerapan konsep green mining.
“Semua aktivitas di tambang Tujuh Bukit, terbuka untuk kepentingan publik sesuai batasan peraturan perundang- undangan,” terang Iwa Mulyawan, Environmental Superintendence PT BSI, didampingi Mufizar Mahmud, Corporate Communications Manager PT BSI dan tim geolog, saat memandu TimesIndonesia.co.id mengunjungi lokasi tambang, Sabtu (17/11/2018).
Advertisement
Menurut keterangan Iwa, PT BSI dikelola dengan mempertimbangkan aspek sosial maupun lingkungan karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Tinggal bagaimana koorporasi membuat pertambangan bermanfaat. Konsep terpenting BSI adalah bagaimana sebuah perusahaan dikelola dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan,” katanya.
Aspek tersebut telah sesuai standar nasional maupun internasional, meliputi pengelolaan lingkungan, pemantauan lingkungan, rehabilitasi lahan dan pengendalian sedimen. Dari studi kelayakan, PT BSI telah mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
“Pemerintah sudah melakukan guidance teknik penambangan yang baik, kita tinggal ikuti pedoman itu,” lanjut Iwa.
PT BSI memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) seluas 4.998 ha di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Karena berada di wilayah Perhutani, PT BSI juga memiliki Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dengan kompensasi mengembalikan dua kali lipat. “BSI sudah mempersiapkan 2100 hektar,” lanjut Iwa.
Kegiatan pembukaan lahan disesuaikan dengan kebutuhan. Ada lima lubang tambang yang dioperasikan (Pit), yaitu Pit A, Pit B East dan B West, Pit E (sudah ditimbun), dan Pit C yang baru akan dikembangkan pada 2019 nanti. “Sesuai rencana ada lima, saat ini ada tiga pit yang aktif yaitu Pit A, Pit B East dan B West,” ujar Iwa.
Unit bisnis produksi emas dan tembaga berada di Tujuh Bukit Operation (Tumpang Pitu). PT BSI memulai produksi penambangan bijih perdana (first digging) pada 1 Desember 2016. Di tahun yang sama, BSI ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas) karena mengelola sumber daya mineral Tumpang Pitu yang merupakan aset strategis negara. PT BSI akan beroperasi hingga 2024 mendatang.
Tahap awal penambangan, PT BSI melakukan pembersihan lahan, penggalian top soil (tanah pucuk/humus) yang nantinya akan digunakan kembali untuk kegiatan reklamasi pasca tambang. “Saat ini top soil disimpan di suatu area untuk di-keep, disehatkan dan dikembalikan lagi saat pasca penambangan nanti,” papar Iwa.
Selanjutnya dilakukan kegiatan produksi meliputi drilling and blasting (peledakan batuan yang keras), digging (penggalian), dan pemilihan serta pemilahan batuan mineral yang ditumpuk setinggi 10 meter untuk melewati proses pelindihan.
“Airnya ditampung (mengandung emas dan perak) baru ditarik proses. Siklus pelindihan menggunakan cairan sianida yang dimanfaatkan secara berulang (siklus tertutup). BSI tidak menggunakan merkuri dan tidak ada sisa tambang oleh karena itu merupakan teknik penambangan yang bersifat ramah lingkungan,” sambung Mufizar Mahmud, Corporate Communications Manager PT BSI.
Dalam dokumen rencana penutupan tambang, kawasan ini akan beroperasi hingga 2024 mendatang. Sementara tahun berikutnya adalah proses rinsing, di mana kawasan dialiri air murni selama dua tahun berturut-turut hingga memenuhi batu mutu lingkungan. “Fase di dokumen studi kelayakan sampai 2024, sementara 2025 kita masih mengadakan kegiatan processing,” tambah Iwa Mulyawan.
“Usai rinsing, dinyatakan air keluar aman, baru kemudian penataan lahan, kestabilan lereng dihitung. Setelah diatur konturnya sesuai lingkungan sekitar baru ditutup menggunakan top soil ditanami tanaman penutup lahan. Baru dimasuki pohon yang cepat tumbuh dan pohon inti baru serah terimakan dengan pemerintah kembali,” jelas Iwa menambahkan.
Kriteria kesuksesan recovery sendiri ditaksir pada angka 80 persen dan ditentukan oleh Menteri ESDM.
Kawasan tambang yang berbatasan langsung dengan tiga kabupaten (Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso) tersebut juga telah dibuka untuk kalangan terbatas guna workshop project study sejak tahun lalu, dengan beberapa unit bus yang telah disediakan.
“Kita mulai berubah akhir tahun 2017 kemarin kita sediakan bis untuk melihat lokasi tambang real di PT BSI. Kami juga punya standar pengelolaan lingkungan baik nasional maupun internasional,” terang Iwa diamini oleh Mufti.
PT BSI merupakan generasi ketiga yang melakukan kegiatan eksplorasi sejak ditemukan tahun 1991 silam hingga eksplorasi regional sampai tahun 2001. Banyak perusahaan berganti-ganti mengelola lokasi ini, namun kolaps karena krisis tahun 1997. Tahun 2012 PT BSI mengakuisisi PT Indo Multi Niaga (IMN).(*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Faizal R Arief |
Publisher | : Sholihin Nur |
Sumber | : TIMES Banyuwangi |