Musih Hujan, Warga Desa Durenan Memburu Katimumul untuk Dikonsumsi
Sebagain orang mungkin jijik dengan Katimumul. Berbeda dengan masyarakat Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Hewan sejenis kumbang ini menjadi menu kuliner warga desa setempat di kala musim penghujan.

MADIUN – Sebagain orang mungkin jijik dengan Katimumul. Namun berbeda dengan masyarakat Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, hewan sejenis kumbang ini menjadi menu konsumsi warga desa setempat di kala musim penghujan.
"Dimasak sedikit pahit tapi gurih," tegas Slamet warga Desa yang berada di lereng gunung Wilis ini.
Menurut Slamet, kuliner Katimumul sudah ada sejak nenek moyangnya saat masa sulit mencari makan. Hewan ini biasa hidup di tepian hutan di lubang bawah pohon dan keluar hanya pada malam hari.
Alat yang digunakan untuk berburu hewan ini cukup membawa tampah (nampan) dan senter. "Kadang nempel di daun Sirsat, Sono, Dadap dan Tormis," katanya.
Biasanya sekali berburu di malam hari, Slamet bisa mendapat setengah sampai 1 kilogram Katimumul.
Untuk mengkonsumsi Katimumul butuh proses panjang jadi tidak bisa langsung dimakan. Hewan dengan panjang 1 centimeter dan lebar 4 milimeter ini harus didiamkan selama sehari di wadah tertutup agar mati dan agar kotoran, sayap dan kepalanya keluar dari badannya.
" Cara memasak cukup ditumis namun lebih diperbanyak bawang putih dan potongan cabenya," imbuh Marsum istri Slamet.
Tidak hanya Katimumul, kuliner ekstrem di desa Durenan ini di musim hujan ada juga entung jati (ulat jati), belalang, embug-embug dan laron. "Setelah ini daun jati mulai bersemi, ganti berburu entung jati," pungkas Marsum. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


