Ludruk Rukun Damai Gelar Lakon Pendekar Kali Banger di Probolinggo Tempo Doeloe
Ludruk Rukun Damai membawakan cerita pendekar Kali Banger, dalam kegiatan Probolinggo Tempo Doeloe di alun-alun kota setempat, Kamis (29/11/2018) malam.

PROBOLINGGO – Ludruk Rukun Damai membawakan cerita pendekar Kali Banger, dalam kegiatan Probolinggo Tempo Doeloe di alun-alun kota setempat, Kamis (29/11/2018) malam.
Kali Banger merupakan 'pengenal' wilayah Probolinggo di zaman lampau. Sungai ini masih ada, meski ukuran dan fungsinya sudah tak seperti dulu lagi.
Hadirnya cerita terkait Kali Banger ini, memperkuat cita rasa lampau dalam kegiatan Probolinggo Tempo Doeloe 2018, yang digelar hingga Minggu (2/12/2018).
Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo dan DMR Production. Disponsori Herbangin, sarung Gajah Duduk, sirup Kurnia, Honda, teh Pucuk Harum, TIMES Indonesia dan Josstoday.
Cerita tentang Pendekar Kali Banger, dibawakan dalam Bahasa Pendalungan khas Probolinggo-an. Yakni campuran antara Bahasa Jawa dan Madura.
Ludruk Rukun Damai yang berdiri sejak sebelum kemerdekaan ini, tampil mengawali pertunjukannya dengan tarian remo, jula juli khas Ludruk Jawa Timuran.
Setelah jula-juli, dilanjutkan dengan lawak cak Mukadi cs. Lalu menuju cerita utama berjudul Pendekar Kali Banger.
Cerita itu mengisahkan dua orang seperguruan pencak silat yang bertikai memperebutkan sesuatu. Tetapi akhirnya bisa didamaikan dengan alasan masih banyak pekerjaan baik yang harus dilakukan untuk membangun kemaslahatan masyarakat.
Seusai pertunjukan Cak Mukadi selaku pimpinan Ludruk Rukun Damai mengungkapkan, kesenian ludruk adalah satu rangkaian utuh antara musik gamelan, tari remo, jula juli, lawak dan cerita tama. "Jika salah satu unsurnya dihilangkan, maka bukan ludruk namanya," ujarnya.
Cak Mukadi mengaku sangat bangga melihat generasi muda saat ini yang tak segan lagi menyaksikan pegelaran Ludruk yang dipimpinnya. "Saya senang banyak generasi muda yang tidak beranjak pergi mulai awal pertunjukan hingga akhir. Dan saya sangat berharap adanya penerus kesenian ludruk di Kota Probolinggo ini," ujarnya.
Sementara itu Dwi Ragiel Febrynandiar, salah satu penonton, memberi apresiasi positif terhadap diadakannya event Probolinggo Tempo Doeloe tahun 2018 ini.
"Ludruk ternyata menarik dan harus dilestarikan. Event Probolinggo Tempo Doeloe ini saya harap akan jadi agenda rutin setiap tahunnya. Dan harus menggali potensi terpendam Probolinggo masa lalu untuk di sajikan tahun-tahun kedepan." pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


