Banjir Mendominasi Bencana di Kota Probolinggo Lima Tahun Terakhir
Musim hujan tiba. Bagi warga Kota Probolinggo, Jawa Timur, ini identik dengan bencana banjir. Bagaimana tidak, dari 29 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan, 22 di antaranya berada di bawah ancaman banjir.

PROBOLINGGO – Musim hujan tiba. Bagi warga Kota Probolinggo, Jawa Timur, ini identik dengan bencana banjir. Bagaimana tidak, dari 29 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan, 22 di antaranya berada di bawah ancaman banjir.
Enam kelurahan di Kecamatan Kanigaran, lima kelurahan di Kecamatan Kedopok, lima kelurahan di Kecamatan Mayangan, empat kelurahan di Kecamatan Kademangan, dan dua kelurahan di Kecamatan Wonoasih.
Berdasarkan Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Kota Probolinggo tahun 2017 yang diperoleh TIMES Indonesia, total wilayah yang memiliki ancaman banjir seluas 540,91 hektar.
Rinciannya, 52,74 hektar dengan ancaman banjir kategori rendah. Dalam kategori ini, ketinggian air berkisar antara 11-58,09 centimeter.
Kemudian 327,26 hektar dengan ancaman banjir kategori sedang. Dalam ketegori ini, ketinggian air berkisar antara 59-104,78 centimeter.
Dan 160,91 hektar dengan ancaman banjir tinggi. Ketinggian air dalam kategori ini berkisar antara 104,78-150 centimeter.
Wilayah yang cenderung memiliki ancaman banjir tinggi adalah Kecamatan Kademangan. Meliputi Kelurahan Ketapang dan Pilang.
Kemudian Kecamatan Kanigaran (Kelurahan Kanigaran dan Kebonsari Kulon); Kecamatan Kedopok (Kelurahan Jrebeng Lor); dan Kecamatan Mayangan (Kelurahan Mangunharjo dan Sukabumi).
Penyebab ancaman banjir adalah curah hujan yang tinggi, penumpukan sampah pada saluran drainase, pendirian bangunan di atas saluran drainase, adanya pertemuan dua saluran atau sungai, serta terdapat beberapa ruas jalan yang belum memiliki saluran drainase.
Dokumen Laporan Pertanggung Jawaban Akhir Masa Jabatan Wali Kota Probolinggo, Rukmini, menyebutkan, sepanjang 2014-2018, sedikitnya terjadi 16 kali banjir. Sekali di tahun 2014, delapan kali di tahun 2015, enam kali di tahun 2016, dan sekali di tahun 2017.
Dibandingkan dengan bencana angin puting beliung dan bencana kebakaran yang terjadi di Kota Probolinggo dalam periode 2014-2018, bencana banjir menempati posisi tertinggi. Banjir terparah terjadi pada 27 Mei 2016.
Saat itu, hujan lebat yang cukup lama, ditambah sungai yang dangkal, membuat 782 rumah terendam. Rinciannya, 693 rumah di Kelurahan Jati, 47 rumah di Kelurahan Sukoharjo, dan 42 rumah di Kelurahan Sukabumi.
Karena itu, tak heran bila BPBD Kota Probolinggo menempatkan bencana banjir sebagai satu-satunya bencana dengan resiko tinggi. Adapun bencana kebakaran gedung/bangunan dan bencana gelombang pasang termasuk bencana dengan resiko sedang.
Sedangkan bencana erupsi Gunung Bromo atau banjir lahar dingin, dan bencana angin kencang, termasuk bencana dengan resiko yang rendah di Kota Probolinggo. Hingga kini, bencana banjir masih menghantui Kota Probolinggo di musim hujan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


