Advertisement
Peristiwa Daerah

Ini Beberapa Tradisi Unik Saat Lebaran di Kabupaten Blitar

Tradisi unik saat lebaran hadir di banyak daerah. Termasuk di wilayah Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

TIMES Indonesia,
Ini Beberapa Tradisi Unik Saat Lebaran di Kabupaten Blitar
Tradisi unik saat lebaran hadir di banyak daerah. Termasuk di wilayah Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
A-AA+

BLITAR Tradisi unik saat lebaran hadir di banyak daerah. Termasuk di wilayah Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Di sebuah kampung di Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ada kebiasaan unik yang dilakukan, yakni mennyulut mercon dan melayangkan balon udara. 

Advertisement

"Ini budaya turun menurun sejak kakek kakek saya dulu," ujar Efendi dari Garum, Kabupaten Blitar, Jumat (7/6/2019).

Balon-Lebaran-c.jpg

 Menurutnya usai shalat id dan kenduri sebelum silaturahmi ke para tetangga, anak-anak dibantu dengan yang dewasa menyulut petasan mulai dari yang kecil hingga prtasan besar. 

Akibatnya pelataran masjid jadi penuh sampah kertas bekas ledakan mercon alias petasan.

"Ini sebenarnya dampak ya sangat berbahaya. Namun untuk menghibur anak anak," tambah Muhammad.  

Advertisement

Setelah petasan selesai, lanjut Efendi acara dilanjutkan melayangkan balon.Mulai yang berdiameter 8 x 12 meter hingga 8  x 20 meter.

Balon-Lebaran-b.jpg

 "Ketika  menaikkan balon udara inilah saat yang ditunggu tunggu warga.Tua muda belum kembali ke rumah kalau balon belun melayang ke udara," urainya.                                     

Fendi menjelaskan balon dibuat dari kertas  almunium hasil dari patungan dari warga sekitar. 

"Setiap tahun kita bikin. Satu balon biasanya butuh biaya Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Lalu digarap ramai- ramai. Pas malam takbiran anak-anak mempersiapkan balon. Terkadang sampai pagi hari," jelas Fendi.            

 Sementara itu budaya menyulut petasan juga masih berjalan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu, Kabupaten Blitar. 

Ratusan petasan dengan berbagai ukuran disulut usai shalat id. Para jamaah tidak akan pulang sebelum petasan disulut.

"Para jamaah besar kecil akan tepuk tangan manakala petasan yang paling besar udah diledakkan," ungkap Gus Abdul Ajis salah satu pengasuh pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Ghofur itu.                   

Menurut Gus Ajik panggilan akrabnya, bahwa tradisi sulut petasan usai lebaran itu sudah belangsung lama. Yakni sejak kakeknya KH Abdul Ghofur masih memimpin pondok. "Dan saat ini udah generasi ketiga," ucapnya.

Tradisi lain yang masih dilakukan termasuk tradisi unik shalat tarwih tercepat sedunia juga masih terjaga dengan baik.
"Ya..semua kebiasaan dari embah buyut hingga kini masih berjalan," katanya mengenai ragam tradisi unik di Kabupaten Blitar saat lebaran tiba. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imam Kusnin Ahmad
PenulisImam Kusnin AhmadPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2000. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia