Pemkab Sumba Timur Akan Selenggarakan Festival Kuda Sandalwood dan Tenun Ikat

TIMESINDONESIA, SUMBA TIMUR – Pemkab Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) melaluli Dinas Pariwisata akan menyelenggarakan Festival Kuda Sandalwood yang akan dilaksanakan 11-12 Juli 2019. Acara ini bertempat di padang savana Purukambera, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur.
Kepala Bidang (Kabid) Destinasi dan Industri Pariwisata Kabupaten Sumba Timur Yudi Umbu T.T Rawambaku kepada TIMES Indonesia, Kamis (20/6/2019) mengatakan, Mai La Humba atau Ayo ke Sumba untuk menyaksikan festival kuda Sandalwood Sumba sekaligus prosesi adat budaya Sumba Timur serta parade kuda sandalwood oleh 5 Kecamatan di Sumba Timur.
Advertisement
“Festival sandalwood terbagi menjadi 2 kegiatan besar yakni parade kuda dan expo tenun ikat Sumba, jadi tahun ini memiliki tema yang diambil dari peristiwa-peristiwa tradisi dan budaya Sumba Timur oleh peserta parade kuda sandalwood di 5 Kecamatan yang ada di Sumba Timur,” kata Yudi.
Ia menjelaskan, peserta Festival Kuda Sandalwood dari 5 Kecamatan yaitu, Kecamatan Pandawai, Kambera, Kota Waingapu, Haharu dan kanatang sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan. Ada pun tema yang dilakoni peserta dalam bentuk kelompok berkuda seperti peristiwa penguburan bangsawan atau Raja, mengawal bangsawan atau Raja ke medan pertempuran, kuda sebagai beban memuat hail bumi seperti jagung, padi dan lainnya.
Yudi menambahkan, selain prosesi tersebut, ada prosesi berburu dan mengejar kuda liar dengan cara menjirat atau laso (Pamopu Njara), prosesi meminang perempuan (Purru ngandi) atau proses membawa lari perempuan (Palai ngandi tau) atau bahasa Sumbanya ana mamoha atau marangganggu. Prosesi berikutnya kuda tunggang bagi laki-laki Sumba sebagai bentuk kebesaran dan kebanggaan serta kuda dapat menari ketika mendengar musik tradisional seperti Gong atau tambur.
“Sementara untuk tenun ikat Sumba Timur diambil dari 5 daerah pesisir pantai yang memiliki ciri tersendiri contohnya, tenun ikat Kanatang berwarna biru dengan pewarna alam indigo (wora) dan tenun ikat Kaliuda memiliki ciri khas berwarna merah dari pewarna alam morinda (Kombu) dan jenis lainnya dari Umalulu, Rindi dan Kambera, kegiatan ini akan dilaksanakan di lapangan Pahlawan Kota Waingapu,” ungkap Yudi. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Lucky Setyo Hendrawan |
Sumber | : TIMES Sumba |