Gunakan Mobil Grandong, Pria di Banyuwangi Ini Jualan Air Bersih Keliling Desa
Menggunakan sebuah kendaraan rakitan khas pedesaan yakni grandong, Wiji Hidayat (24) menjual air bersih keliling Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Desa tersebut merupakan daerah terlanda kekeringan di wilayah Banyuwangi yang be

BANYUWANGI – Menggunakan sebuah kendaraan rakitan khas pedesaan yakni grandong, Wiji Hidayat (24) menjual air bersih keliling Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Desa tersebut merupakan daerah terlanda kekeringan di wilayah Banyuwangi yang belum memiliki sumber air bersih.
Usahanya ini berawal saat dirinya melihat banyaknya warga sekitar yang membutuhkan air bersih untuk dikonsumsi. Kemudian, munculah ide untuk memulai usaha jualan air bersih tersebut.
Selasa (2/7/2019) siang, sengatan matahari terasa membakar telapak kaki, siang itu Wiji berkeliling desa untuk mendapatkan setetes rejeki. Hanya mengenakan kaos oblong dan topi sebagai pelindung panas, otot-otot kekar pemuda itu seakan menjadi bukti kerasnya kehidupan yang telah dia jalani.

Untuk mengambil air bersih, Wiji harus menempuh jarak 20 kilometer menuju Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar. Terpapar panas matahari ataupun terguyur air hujan, merupakan hal yang sudah biasa dia rasakan. Sudah 8 bulan berlalu, Wiji dan mobil grandong-nya selalu menjadi penantian warga Kedungwungu. Membawa wujud kesegaran pada perkampungan yang sudah lama tak terguyur hujan.
"Satu kali keliling bisa memuat seratus jirigen air bersih. Satu jirigen saya hargai dua ribu rupiah," kata Wiji kepada TIMES Indonesia, Selasa (2/7/2019).
Tidak selalu air itu dibeli, kata Wiji, terkadang saat musim hujan, warga sengaja menampung air hujan. Ada juga warga yang sudah terbiasa mengonsumsi air sumber di sana. Dengan cara dimasak terlebih dahulu.
"Sumber air di sana tidak bisa jernih. Berbau dan kalau diminum rasanya asin sepah," katanya.
Wiji menceritakan, warga di Desa Wringinputih sudah puluhan tahun dilanda krisis air bersih. Ada sumber air, namun hanya bisa digunakan untuk mencuci baju. Sedangkan untuk diminum dan memasak, banyak warga yang menggantungkan dari penjual air bersih keliling.
"Saya selalu berharap, semoga nanti air bersih bisa segera mengaliri desa ini," katanya.
Saat ini, air bersih merupakan hal yang sangat langka di wilayah tersebut. Ditambah, menurut pantauan BPBD, Kecamatan Tegaldlimo merupakan salah satu dari sembilan kecamatan di Banyuwangi yang berpotensi tinggi mengalami kekeringan dalam tiga bulan ke depan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

