Advertisement
Peristiwa Daerah

Kebun Buah Purwosari Tutup, Petani Jualan di Pinggir Jalan

Kebun Buah Purwosari Cepoko, Mijen yang selama ini menjadi tempat agrowisata unggulan Kota Semarang terpaksa tutup akibat pandemi virus Corona.

TIMES Indonesia,
Kebun Buah Purwosari Tutup, Petani Jualan di Pinggir Jalan
Akibat Kebun Buah Purwosari Cepoko, Semarang tutup, para petani terpaksa berjualan di pinggir jalan. (Foto: Eko Santoso/TIMES Indonesia)
A-AA+

SEMARANG Kebun Buah Purwosari Cepoko, Mijen yang selama ini menjadi tempat agrowisata unggulan Kota Semarang terpaksa tutup akibat pandemi virus Corona. Dampaknya, para petani di kebun tersebut harus berjualan di pinggir jalan 

Keterangan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur. Dia menyatakan jika Kebun Buah terpaksa harus tutup untuk kunjungan masyarakat demi menaati imbaun pemerintah Kota Semarang. 

Advertisement

"Salah satu dampak akibat pandemi ini ya terpaksa Kebun Buah Purwosari Cepoko yang kita kelola bersama masyarakat dan menjadi andalan dalam agrowisata di Kota Semarang kita tutup untuk kunjungan masyarakat," ungkapnya kepada TIMES Indonesia, Rabu (6/5/2020).

Akibat penutupan ini, Hernowo Budi Luhur menyampaikan jika para petani yang di kebun buah tersebut terpaksa tidak bisa memasarkan hasil-hasil panen buah-buahan di dalam lokasi kebun. Untuk itu, sebagai alternatif, terpaksa para petani buah di Cepoko memasarkan hasil  produknya diluar halaman kebun.

Meskipun kebun terpaksa tutup, dia menambahkan jika perawatan tetap harus dilaksanakan walau dengan anggaran yang terbatas akibat refocusing anggaran. Hal ini menurutnya justru menjadi tantangan bagi pihaknya untuk melakukan inovasi, seperti memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia. Misal dengan memperbanyak pembuatan pupuk kompos, membuat obat hama yang alami, dan lain sebagainya.

Di lain kesempatan, salah satu petani di Kebun Buah Purwosari Cepoko, Amin Rohmah (36) menyampaikan jika dirinya memang harus jualan di pinggir jalan sejak tutupnya kebun buah tersebut.

"Mejelang akhir bulan Maret lalu kebun buah sudah tutup dan tidak menerima kunjungan wisata. Jadi para petani buah yang biasa berjualan di dalam terpaksa harus memindah lokasi jualannya ke pinggir jalan," tuturnya. 

Advertisement

Selama pindah berjualan di pinggir jalan, Rohmah mengaku jika hasil penjualannya menurun. Dia mengungkapkan jika sebelum ada virus Corona dan dirinya berjualan di dalam kebun, sehari bisa laku 10 kilogram buah dan bahkan lebih. Hal ini karena menurutnya banyak pengunjung yang datang, dari yang mencari bibit hingga memang niat mencari buah, atau bahkan hanya sekedar berwisata di kebun.

"Jadi dulu pas belum tutup banyak pengunjung dan otomatis kemungkinan lakunya banyak. Kalau sekarang kan kami jualan di pinggir jalan, jadi yang beli pun ya mereka yang lewat saja dan memang niat beli," tambahnya. 

Akan tetapi, meskipun hasil penjualan menurun, mereka terpaksa nekat jualan. Hal ini karena jika para petani tidak jualan, hasil buah dari kebun tersebut tidak ada yang memasarkan.

"Waktu masih buka itu ada hampir 10 yang berjualan di dalam lokasi Kebun Buah Purwosari. Tapi karena sekarang jualannya di pinggir jalan dan omset menurun, ini yang jualan di pinggir jalan hanya ada 6," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia