Advertisement
Peristiwa Daerah

Makam KH Sholeh Darat di Semarang Masih Dikunjungi Peziarah

Meskipun berada di tengah pandemi Corona, nyatanya hampir tiap hari makam Kiai Haji Sholeh Darat tak pernah sepi dari para peziarah. Beberapa peziarah masih datang ke makam yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota.

TIMES Indonesia,
Makam KH Sholeh Darat di Semarang Masih Dikunjungi Peziarah
Makam KH Sholeh Darat di TPU Bergota Semarang. (Foto: Eko Santoso/TIMES Indonesia)
A-AA+

SEMARANG Meskipun berada di tengah pandemi Corona, nyatanya hampir tiap hari makam Kiai Haji Sholeh Darat tak pernah sepi dari para peziarah. Beberapa peziarah masih datang ke makam yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota. 

KH Sholeh Darat merupakan salah satu ulama besar nusantara. Dia memiliki nama lengkap Muhammad Shalih ibn Umar as- Samarani. Lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar 1820 /1235 H.

Advertisement

Biasa disapa Mbah Sholeh Darat, ia merupakan guru para ulama di Nusantara. Dia memiliki beberapa murid, di antaranya pendiri Nahdlaltul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan pahlawan emansipasi wanita Raden Ajeng Kartini. Meninggal pada 1903 M, makamnya yang berada di TPU Bergota tak pernah sepi dari peziarah. 

"Memang berbeda bila dibandingkan pas belum ada Corona, tapi setiap hari masih ada peziarah datang ke makam KH Sholeh Darat,'' ujar salah satu juru kunci TPU Bergota, Sumiyati kepada Times Indonesia, Jumat (8/5/2020).

Kini makam Kiai Sholeh Darat di TPU Bergota ini menjadi salah satu tempat wisata religi yang banyak dikunjungi.

Namun, jejak Kiai Sholeh Darat tidak hanya ada di Bergota. Ada juga Kompleks Masjid Sholeh Darat di Jalan Kakap Nomor 212, Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara. Meski tanpa makam, kompleks Masjid KH Sholeh Darat tetap banyak dikunjungi. 

Di lokasi masjid itulah dulu Pondok Pesantren (Ponpes) Darat berada. Di tempat itu pula Kiai Sholeh Darat mengajar para santrinya. Kini, ponpes tersebut sudah tidak berbekas. Sebagai gantinya adalah masjid dengan nama Kiai Sholeh Darat. 

Advertisement

Kala itu nama KH Sholeh Darat sangat diperhitungkan Belanda karena ajarannya sangat berpengaruh. Bahkan ketika meninggal dan makamnya selalu didatangi banyak peziarah termasuk para pejuang.

Belanda mulai khawatir dan memindahkan makamnya ke daerah Bergota Semarang. Dulu Bergota belum seperti sekarang yang jadi kompleks pemakaman. Masih rawa-rawa, hutan, belum banyak dijangkau. Itu siasat Belanda agar tidak ada sentralisasi massa.

"Dulu sebelum ada masjid, bentuknya langgar atau mushala kecil dari kayu. Karena sering terkena rob (banjir pasang air laut), akhirnya dibongkar oleh cucunya, Kiai Ali Cholil, pada 1992. Jadilah masjid seperti sekarang ini," kata cicit Kiai Sholeh Darat, Lukman Hakim Saktiawan. 

Di Masjid ini masih tersimpan kitab-kitab karya Kiai Sholeh Darat. Termasuk kitab terjemahan, dengan tema beragam, mulai dari fikih hingga tasawuf. Saat ini, ada sekelompok pengajian yang mengkaji kitab-kitab itu, yaitu Komunitas Pencinta Kiai Sholeh Darat atau Kopisoda. 

Replika kentongan yang dulu dipakai oleh Kiai Sholeh Darat untuk menandai datangnya waktu salat juga masih dipajang di bagian depan masjid. Sedangkan kentongan asli disimpan di ruang takmir. "Masjid ini merupakan bukti sejarah bahwa pada masanya ada seorang Kiai besar, guru bagi ulama-ulama besar di Nusantara," ujar Gus Lukman. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia