Cerita Burung Hantu Pengusir Hama Tikus di Tlogoweru Demak
Burung hantu dengan nama latin tyto alba dikembangkan oleh petani Desa Tlogoweru kabupaten Demak Jawa Tengah.

DEMAK – Burung hantu dengan nama latin tyto alba dikembangkan oleh petani Desa Tlogoweru kabupaten Demak Jawa Tengah.
"Karena burung tersebut adalah predator tikus," ujar Sutejo, Kepala Desa Tlogoweru Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Jum'at (29/5/2020).
Kades Sutejo menceritakan, awal mula Desa Tlogoweru mengalami endemis tikus. Sudah lama sekali, petani di desa tersebut tidak panen tanaman pertanian dan tanaman palawija.
"Awalnya sudah bertahun-tahun tanaman milik para petani diserang tikus, jadi panennya cuma 40 persen. Hasil panen bisa meningkat ketika warga itu mengadakan gropyokan tikus, maka dari itu mincul ide dari saya pribadi untuk mencari predator tikus yang menjadi hama bagi para petani di Desa kami. Akhirnya ketemu dengan yang namanya burung hantu atau dalam bahasa latin disebut burung tyto alba," ujar Kades Tlogoweru.
Kades yang juga merupakan sarjana ilmu sosial tersebut mengajak teman-temannya untuk mencari keberadaan burung hantu tersebut.
"Setelah menemukan burung hantu tersebut, saya dan teman-teman membutuhkan waktu selama 6 bulan berturut-turut untuk belajar mengenai habitat, karakter, tempat tinggalnya dan bagaimana perkembang biakannya," ungkapnya.
Kemudian Desa Tlogoweru membentuk tim yang diberi nama tim tyto alba dan sekaligus juga membuat karantina.
"Untuk uji coba, burung tersebut diambil dari daerah lain kemudian dimasukkan ke karantina dan dipelajari tentang karakternya, ternyata burung tersebut tidak bisa membuat sarang sendiri dan dia hanya bisa menempati tempat tempat di gedung kosong yang ada plafonnya. Untuk itulah maka petani Tlogoweru atau tim tyto alba mengembangkan di tlogoweru jadi tidak diternakkan tapi dikembangkan," tuturnya.
Sutejo menuturkan, kalau diternakkan menempati suatu tempat tertentu kemudian beranak pinak disitu tapi kalau dikembangkan burung tersebut tetap hidup di alam bebas kemudian difasilitasi dibuat kan rumah-rumah burung hantu.
"Alhamdulillah, di Desa Tlogoweru saat ini memiliki 200 rumah burung hantu yang tersebar di 225 hektar sawah wilayah tlogoweru dimana perkembangannya bagus tumbuh kembang burung tersebut juga bagus," tuturnya.
Setelah melakukan pengamatan berkali-kali, Kades Sutejo dan kawan-kawannya mulai memahami karakteristik burung hantu yang berada di tempat karantina. "Kalau makannya cuma dua sampai tiga ekor permalam, namun daya bunuhnya itu tidak terbatas artinya setiap burung tersebut melihat tikus tetap dibunuh, ini terbukti ketika ada di karantina," imbuhnya.
Tidak pantang menyerah, uji coba terus dilakukan oleh tim tyto alba. "Saat itu, kita beri burung 8 ekor, kemudian kita beri tikus 100 ekor. Satu malam dibabat habis tidak ada yang hidup tikusnya itu. Semenjak itu kami semakin mantap, maka sejak tahun 2011 desa Tlogoweru membuat peraturan desa tentang pengembangan burung hantu tyto alba. Di sinilah berkembang biak dengan bagus," ucapnya.
Dengan hati gembira, Kades Sutejo menuturkan bahwa sekarang pertanian di Tlogoweru tidak ada gangguan hama tikus
"Jadi tadinya 60 persen yang hilang dimakan tikus. Alhamdulillah sekarang sudah pulang. total kalau kita hitung komoditas yang pulang yaitu jagung dan padi, ini dari 225 hektar ini senilai 10, 5 milyar. sehingga daya beli masyarakat meningkat, tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Menanam padi pulang bawa padi menanam jagung pulang bawa jagung," tutur Sutejo dengan ekspresi bahagia.
Selanjutnya Kades Sutejo mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama belajar mengembangkan burung hantu yang sangat bermanfaat itu.
"Monggo selanjutnya banyak daerah-daera di Jawa Tengah, di Indonesia dan di Luar Negeri sudah mendengar bahwa di Desa Tlogoweru ada pengembangan burung hantu dan bermanfaat bagi pertanian. Silahkan datang ke Tlogoweru untuk studi pengembangan burung hantu tyto alba," ajaknya.
Saat ini pengembangan burung hantu sudah meluas, baik untuk perkebunan maupu pertanian "Dimanapun itu sudah pada memelihara burung hantu jenis tyto alba tersebut, jadi inilah inovasi desa tlogoweru yang alhamdulillah bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," imbunya.
Disamping itu, Desa Tlogoweru saat ini juga merupakan desa wisata pengembangan burung hantu. "Alhamdulillah, rumah-rumah penduduk itu juga dipakai untuk penginapan tamu yang datang untuk mengamati burung tersebut di malam hari karena burung tersebut nokturnal aktifitasnya pada malam hari," ucapnya.
Kades Sutejo menutup percakapan dengan berpesan kepada masyarakat luas untuk belajar dan berbagi pengalaman tentang menanggulangi pertanian dengan cara yang lebih baik dan ramah lingkungan.
"Silahkan yang merasa daerahnya itu diserang oleh tikus, mari kita bekerjasama untuk belajar di Tlogoweru Demak dan berbagi pengalaman. Bersyukur sekarang sudah tidak pakai alat apa-apa lagi, apalagi pakai setrum. Sekarang pakai secara biologis yaitu menggunakan burung hantu jenis tyto alba," tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

