Advertisement
Peristiwa Daerah

Cak No Arema, Kenangan Manis dan Sejarah Paling Pahit

Cak No menerawang jauh. Kerutan di wajahnya seolah menjadi tanda betapa lama hidupnya dihabiskan sebagai suporter untuk mendukung klub sepak bola Arema FC.

TIMES Indonesia,
Cak No Arema, Kenangan Manis dan Sejarah Paling Pahit
Cak No saat ditemui TIMES Indonesia di warungnya di daerah Celaket, Kota Malang pada Rabu (24/6/2020) (Foto: Ovan Setiawan/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Cak No menerawang jauh. Kerutan di wajahnya seolah menjadi tanda betapa lama hidupnya dihabiskan sebagai suporter untuk mendukung klub sepak bola Arema FC.

“Bagi saya ini adalah sejarah paling pahit, catat itu” ungkap sesepuh Aremania yang dikenal sebagai penabuh bass drum kala di tribun  ini saat ditemui TIMES Indonesia di warungnya kawasan Celaket, Kota Malang pada Rabu (24/6/2020) pagi.

Advertisement

Ungkapan kecewa Cak No bisa jadi adalah hal yang wajar. Sepak bola menjadi salah satu korban pukulan telak Covid-19 hingga tidak berdaya hingga akhirnya kompetisi terpaksa dihentikan. Lebih-lebih di dunia suporter, cinta yang dibangun dengan berapi-api pada klub kebanggaan terpaksa harus dipendam lebih dahulu untuk sementara waktu.

CakNo-Arema-2.jpg

Cak No yang menjatuhkan hatinya pada tim Singo Edan Arema sejak klub ini berdiri pertama kali tidak menyangka bahwa akan ada pandemi dahsyat yang sanggup menghentikan sepakbola. “Selama saya hidup sebagai suporter, ini adalah yang paling dahsyat,” lanjut pria yang bernama asli Sukarno ini.

Kendati hanya sebagai suporter, sepak bola menurut Cak No sudah memberikan segalanya. Bahkan dia mendapatkan semangat lebih dari sepak bola yang menurutnya memiliki arti luas.

“Saya memang hanya suporter, tapi sepak bola memberikan saya segalanya. Sepak bola memberikan saya banyak teman, saya bisa dikenal juga karena sepak bola. Sepak bola bukan hanya milik pemain yang berlari tapi juga suporter yang memberikan cintanya pada sepak bola,” ujarnya.

Advertisement

Cak No beranggapan bahwa sepak bola adalah hiburan rakyat yang paling murah dan memberikan dampak kesenangan yang berkepanjangan. Dia membandingkan dengan konser musik yang mungkin kesenangannya hanya bisa dirasakan seketika datang ke konser.

“Sepak bola adalah hiburan paling murah. Musik mungkin juga lebih murah, tapi dampaknya tidak berkepanjangan. Kalau kita datang ke konser musik memang gembira memang senang tapi ya berhenti di situ, kalau di sepak bola sudah yang datang banyak, kita juga mendapatkan banyak teman yang terus bertambah, saya tidak ingat jumlah teman saya yang saya kenal dari sepak bola,” ujarnya sembari menyeruput air putih yang dihidangkan oleh sang istri.

Cak No saat ini memang harus banyak-banyak minum air putih. Selain faktor usia, kondisi kesehatannya juga dalam pemulihan setelah beberapa waktu lalu harus tergolek di rumah sakit akibat sakit tipes. Cak No berkelakar, seandainya tidak ada pandemi dan sepak bola berjalan normal dia yakin bahwa dia akan sehat  100 persen.

 “Ya itu tadi, sepak bola bagi saya adalah semangat. Kalau sekarang situasinya seperti ini, baca berita isinya Covid 19, sepak bola tidak ada perkembangan, dimana ada semangatnya, tapi ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita lalui,” paparnya. 

Kenangan Manis

Meski menyebut saat ini adalah sejarah paling pahit selama menjadi suporter, Cak No tidak mampu menyembunyikan kenangan manisnya. Wajahnya berubah berbinar kala ditanya apa kenangan terindah saat menjadi suporter Arema.

“Hal paling indah menurut saya adalah saat Arema menjadi juara ISL pada kompetisi 2009/2010 saat itu kita benar-benar berpesta. Semuanya bergembira, di dada ini seperti plong sekali,” ungkapnya.

Bagi Aremania, momen juara Arema  di tahun tersebut memang memberikan arti lebih bahkan mereka merayakan berhari-hari dengan konvoi. “Kalau di sepak bola tolak ukur atau kegembiraan paling puncak ya ada disaat juara,” ujar Cak No. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ovan Setiawan
PenulisOvan Setiawan Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia