Sempat Tak Ada Pembeli, Saat Ini Nona Martabak Sudah Miliki Empat Cabang
Kuliner martabak adalah sebuah produk makanan yang sudah familiar. Bisnis kuliner inipun sudah sangat banyak, tak terkecuali di Kota Semarang, hampir di semua tempat-tempat keramaian pasti ada penjual martabak mulai dari kelas kaki lima hingga restoran.

SEMARANG – Kuliner martabak adalah sebuah produk makanan yang sudah familiar. Bisnis kuliner inipun sudah sangat banyak, tak terkecuali di Kota Semarang, hampir di semua tempat-tempat keramaian pasti ada penjual martabak mulai dari kelas kaki lima hingga restoran. Muhammad Arif Fauzan, pemuda asal Lebaksiu Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mencoba peruntungan membuka toko martabak sejak tanggal 5 Februari 2019 lalu. Brand yang dia buat bernama Nona Martabak.
“Itu Singkatan dari ‘Nolong Nasib’ mas” ujar pria yang akrab disapa Ojan saat menjelaskan makna brand ‘Nona’ yang dia buat pada Senin (10/8/2020).
“Pertama kali mendirikan Nona Martabak pada tanggal 5 bulan Februari 2019. Awalnya dulu seperti penjual martabak kebanyakan, yaitu pakai gerobak. Dulu gerobaknya, gerobak bekas jualan gorengan, bentuknya sudah nggak layak, tapi saya make over biar pantas untuk jualan martabak,” ungkapnya saat ditanya bagaimana awal membuka usaha kuliner martabaknya itu.
Saat ini Nona Martabak memiliki empat cabang di antaranya di Jl. Fatmawati Tembalang, Pasar banyumanik, Pasar Mangkang, dan Jl. Prof. Dr. Hamka Ngaliyan.
Ojan membuka usaha ini karena memang keluarga dan saudaranya di kampung halaman sudah akrab dengan kuliner martabak. Bahkan dia menjelaskan bahwa martabak adalah makanan sehari-hari di kampungnya.

“Suka dukanya ya banyak, sukanya kalau penjualan bagus dukanya ya kalau juaolannya turun. Sebenarnya saya jualan martabak karena aawalnya hobi, di kampung saya di Kecamatan lebaksiu kabupaten tegal kuliner martabak itu makanan sehari-hari, orang tua dan saudara-saudara saya di kampung sudah banyak yang bikin martabak,” beber pria yang pernah menduduki Presiden BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang ini.
Walaupun mampu membuka empat cabang hanya dalam waktu dua tahun, Ojan juga pernah mengalami nasib yang kurang mengenakkan karena produknya sedikit yang membeli.
“Dulu saya pernah berjualan sehari full Cuma ada tiga pembeli. Malahan sampai ada di mana seharian gak ada yang beli sama sekali. Saya sempat berfikir untuk ganti usaha karena rasa-rasanya usaha martabak gak ada yang minat. Tapi karena bikin usaha lain juga susah dan harus keluar modal lagi ya akhirnya saya mantapkan lagi niat saya dan lebih serius lagi membranding produk-produk saya,” kisahnya.
Black Martabak Mozarella
Nona Martabak mampu menarik minat pembeli dengan kreasi menu-menu baru yang belum ada. Dari situ dia terus mengeksplorasi menu-menu baru hingga saat ini.
“Awal saya jualan martabak, jelas karena kuliner ini sudah familiar dan banyak konsumennya, sehingga tidak sulit di pemasaran, tapi mayoritas menu martabak itu-itu saja, kurang variasi, dan monoton. Makanya saya membuat sesuatu yang berbeda mulai dari menu, tempat jualannya, dan kebersihannya. Kalau harga tetap harga kaki lima, tapi kualitas jelas kami buat lebih baik,”
“Kami sudah banyak membuat inovasi menu, tapi dulu pas saya buat ternyata banyak yang kurang suka dengan menu baru karya saya. Dulu saya pernah membuat martabak buah, jadi mulai dari bahan hingga toping-topingnya full buah mulai dari buah naga, pepaya, nangka, duren, dan lain sebagainya, tapi ternyata peminatnya kurang,” ungakpnya.
“Tapi saya terus membuat menu baru dengan adonan mozarella dan bahan-bahan lain seperti kanji. Sekarang saya juga punya menu baru yaitu black martabak mozarella, sepertinya ini masih baru pertama kali ada menu martabak seperti ini, setidaknya di semarang,” jelasnya.
Ojan mengatakan jika bahan-bahan adonan black martabak mozarella bikinannya didatangkan langsung dari kampung halamannya karena bahan-bahan tersebut sulit didapatkan di pasar-pasar atau toko-toko yang ada di Semarang.
“Bahan-bahannya saya datangkan khusus dari kampung halaman saya di Lebaksiu Tegal, di daerah lain nggak ada. Sambal black martabak mozarella juga saya buat khusus dengan bahan-bahan khusus, jadi nanti sambalnya ada rasa asam manis dan sedikit kejunya,” jelasnya.
Ojan mengklaim bahwa pelanggannya paling suka dengan sambal buatannya, bahkan dia sering membuat sambal ini dengan porsi yang sangat banyak.
“Nah sambalnya ini ternyata banyak yang minat, banyak masyarakat yang kalau beli martabak ini pasti minta sambalnya banyak. Sayapun nyetok sambalnya bisa sampai dua puluh liter per hari,” jelasnya.
Kontrol Kualitas
Ojan memberikan tips bagi para pengusaha kuliner agar selalu menjaga kualitas dan jangan malas mengontrolnya setiap hari.
”Menurut saya kalau jualan kuliner itu nomor satu adalah kualitasnya, setiap hari saya muter-muter untuk mengontrol kualitas mulai dari bahan-bahannya, cara membuatnya, alat masaknya, kebersihan tempatnya, dan lain-lain,” terangnya.
Dia juga menghadirkan koki-koki berpengalaman yang bisa membuat atraksi masak.
“Selain soal makanan, koki-koki kami juga punya keahlian untuk atraksi pas masak, kadang-kadang koki-koki itu juga saya kasih kesempatan untuk mempertunjukkan keahlian atraksinya di hadapan pelanggan. Kalau sudah begini pasti pelanggan pada minat untuk datang ke toko kami,” ungkapnya.
Dalam melakukan branding prduk, Ojan semata-mata tidak hanya mempromosikan produk saja, tapi ada pesan-pesan sosial yang ditampilkan di kardus-kardus kemasan martabak.
“Contohnya selama masa pandemi corona ini kami menyelipkan gambar-gambar yang mengandung pesan untuk selalu menjaga kesehatan, atau nanti pas tujuh belas agustus kami memberikan pesan-pesan kemerdekaan, dan berbagai macam pesan-pesan sosial lainnya,” jelasnya.
Selama masa pandemi ini Ojan mengaku ada penurunan omset yang dia dapat, Dulu waktu sebelum pandemi Ojan mengklaim bisa meraup omset perhari dua sampai tiga jutaan, tapi sekarang paling berkisar di antara satu juta setengah sampai dua juta saja perhari namun tidak sampai membuatnya merumahkan para karyawannya. Bahkan dia tetap memberikan upah sesuai pekerjaan para karyawan lengkap dengan akomodasinya tanpa ada pemotongan.
“Tapi walaupun ada penurunan omset, alhamdulillah kami tidak merumahkan karyawan Nona Martabak, mereka tetap bekerja seperti biasa dan upah mereka juga masih sama tidak ada pengurangan. Karyawan kami saat ini ada sebelas orang dari empat cabang yang kami miliki,” ucap Muhammad Arif Fauzan, pendiri Kuliner martabak dengan merek Nona Marbatak. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

