Mapak Tanggal 1 Suro, Tiga Pusaka Kabupaten Ponorogo Dijamasi
Tiga pusaka milik Kabupaten Ponorogo pada Rabu (19/8/2020) ini dijamasi. Ketiga pusaka tersebut yakni payung songsong kyai Tunggul Wulung, Tombak Kyai Tunggul Nogo, dan sabuk angkin Kyai Cinde Puspito.

PONOROGO – Tiga pusaka Kabupaten Ponorogo pada Rabu (19/8/2020) ini dijamasi. Ketiga pusaka tersebut yakni Payung Songsong Kyai Tunggul Wulung, Tombak Kyai Tunggul Nogo dan Sabuk Angkin Kyai Cinde Puspito.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketiga pusaka tersebut sebelum dijamasi harus dikirab dari makam Batoro Katong menuju Pendopo Kabupaten Ponorogo karena pandemi Covid-19 tidak ada upacara seremonial atau kirab pusaka.
"Karena pandemi Covid-19, tahun ini ketiga pusaka tersebut tidak dikirab," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Ponorogo Agus Sugiyarto.

Menurutnya, meski tidak dikirab prosesi sakral untuk penjamasan ketiga pusaka tersebut masih tetap dilaksanakan.
Sementara Sunardi, juru kunci makam Batoro Katong, kepada TIMES Indonesia mengatakan, untuk mapak tanggal 1 Suro atau Tahun Baru 1 Muharram 1442 H, ketiga pusaka peninggalan Batoro Katong harus dijamasi.
Dan penjamasan tahun ini memang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya karena adanya pandemi Covid-19 ketiga pusaka tidak dikirab. "Kami melakukan ritual seperti biasa sebelum melakukan penjamasan tiga pusaka dengan 7 sumber air yang ada di Ponorogo," ucapnya.
Kata Sunardi, jamasan pusaka merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang, dan benda-benda peninggalan yang dijuluki pusaka selalu dibersihkan atau dijamasi setiap menjelang 1 Suro.

"Tanggal 1 Suro dipilih karena tanggal ini menjadi penanda tahun baru Islam, selain itu bulan Suro adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diyakini bulan keramat," sebutnya.
Sunardi juga menambahkan, maksud dan tujuan jamasan pusaka milik Kabupaten Ponorogo ini untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketentraman.
"Namun apabila dicermati lebih dalam, jamasan pusaka ini mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari," jelas Sunardi, juru kunci makam pendiri Ponorogo Batoro Katong.
Sunardi sendiri yang melakukan penjamasan ketiga pusaka Kabupaten Ponorogo dengan air yang diambil dari 7 sumber, di antaranya sumber air di Gunung Kucur, sumber air Telaga Ngebel, sumber air Masjid Tegalsari, sumber air Masjid Agung RMAA Cokronegoro, dan sejumlah mata air lainnya yang ada di Ponorogo. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


