Advertisement
Peristiwa Daerah

Pro Kontra Penobatan Sultan Sepuh XV Cirebon PRA Luqman Zulkaedin

Penobatan Sultan Sepuh ke XV, PRA Luqman Zulkaedin menuai pro kontra. Banyak penolakan yang dilakukan sejumlah warga saat prosesi penobatan berlangsung termasuk keluarga Kasultanan Cirebon.

TIMES Indonesia,
Pro Kontra Penobatan Sultan Sepuh XV Cirebon PRA Luqman Zulkaedin
Suasana penolakan penobatan Sultan XV di dalam area Keraton. (Foto: Muhamad Jupri/TIMES Indonesia)
A-AA+

CIREBON Penobatan Sultan Sepuh ke XVPRA Luqman Zulkaedin menuai pro kontra. Banyak penolakan yang dilakukan sejumlah warga saat prosesi penobatan berlangsung termasuk keluarga Kasultanan Cirebon.

Pantauan TIMES Indonesia, sebelum penobatan, sudah terjadi penolakan yang datang dari ratusan santri yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Dzuriyah Kanjeng Sunan Gunung Jati. Mereka hanya menginginkan jika kegiatan yang ada di Keraton Kasepuhan hari ini, hanyalah peringatan ke 40 hari wafatnya Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, bukan penobatan.

Advertisement

Aksi penolakan tersebut terjadi di luar area Keraton Kasepuhan Cirebon, dan tidak sampai masuk ke dalam keraton. Karena petugas kepolisian dan Laskar Agung Macan Ali berjaga-jaga di pintu gerbang, mencegah agar mereka tidak masuk.

Penolakan kembali terjadi, dan berasal dari dalam area Keraton Kasepuhan Cirebon, karena berasal dari keluarga Kesultanan Cirebon. Aksi penolakan tersebut terjadi setelah PRA Luqman Zulkaedin dinobatkan menjadi Sultan Sepuh XV.

Suasana sempat memanas saat adanya aksi penolakan tersebut. Namun, petugas keamanan dengan dibantu abdi dalem Keraton Kasepuhan Cirebon, bisa mengatasi kejadian tersebut.

Juru bicara Kesultanan Cirebon yang menolak dinobatkannya PRA Luqman Zulkaedin, yakni Ratu Mawar mengatakan, alasannya menolak karena PRA Luqman Zulkaedin bukan dari nasab atau keturunan Sunan Gunung Jati.

"Yang berhak menjadi Sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon, hanyalah mereka yang keturunan asli dari nasab Sunan Gunung Jati," jelasnya kepada awak media, Minggu (30/8/2020).

Advertisement

Ratu Mawar melanjutkan, secara historis, trah keturuan Sunan Gunung Jati terputus pada masa Sultan Sepuh V, yakni Sultan Matangaji. Sedangkan Sultan ke VI dan seterusnya, merupakan produk dari hasil politisasi dan campur tangan Belanda, serta bukan trah asli dari Sunan Gunung Jati.

"Kita sudah tidak bisa lagi menerima kalau yang bukan trah Sunan Gunung Jati menduduki Keraton Kasepuhan," ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Ratu Mawar, sejak tahun 1958 sudah ada gejolak. Hanya saja belum terkespos. Mereka masih menunggu waktu yang pas untuk bisa melakukan pelurusan sejarah dan nasab Sunan Gunung Jati.

"Akan kita laporkan secara jalur hukum dan susun lagi bagaimana mempertahankan silsilahnya," ungkapnya.

Ratu Mawar mengakui, pihaknya bukan mau melakukan gerakan anarkis melalui penolakan ini. Hanya saja, garis keturunan harus dari Sunan Gunung Jati harus diluruskan. Sehingga, apabila terjadi pertimpangan, maka pihaknya mencoba meluruskan.

Sementara menurut wargi Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Chaidir Susilaningrat, adanya penolakan tersebut adalah sah-sah saja. Sebab, hal tersebut merupakan hak mereka untuk mengutarakan pendapat.

Adapun mau mengakui adanya Sultan Sepuh XV atau tidak, itu juga sah-sah saja, selama hal tersebut masih berada dalam koridor hukum. Sejauh ini, pihaknya tidak menganggap hal tersebut sebagai gangguan. Adapun jika sudah keluar dari jalur hukum, maka harus menerima konsekuensinya.

"Meskipun ada kelompok wargi yang berbeda pendapat, kami di Keraton Kasepuhan tetap melaksanakan adat dan tradisi yang sudah tutun-temurun," ujarnya.

Dirinya pun mengimbau kepada wargi pinangeran atau yang mengaku, agar kembali kepada martabat keluarga Kesultanan Cirebon yang dikenal memiliki tata krama yang baik.

"Sesuai dengan pesan Sunan Gunung Jati, jauhilah perselisihan apalagi pertentangan. Perbedaan pendapat boleh saja, asalkan bisa diselesaikan secara musyawarah," ungkapnya usai penobatan PRA Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M
PenulisMuhamad Jupri Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia