Advertisement
Peristiwa Daerah

Lestarikan Budaya, Masyarakat di Jombang Lakukan Tradisi Mensucikan Diri di Bulan Suro

Lestarikan budaya leluhur masyarakat Pengajaran, Jombang gelar ritual kejawen mensucikan diri di bulan Suro atau Muharram.

TIMES Indonesia,
Lestarikan Budaya, Masyarakat di Jombang Lakukan Tradisi Mensucikan Diri di Bulan Suro
Ritual kejawen mensucikan diri di bulan Muharram di Pengajaran Jombang. (Foto: Rohmadi/TIMES Indonesia)
A-AA+

JOMBANG Lestarikan budaya leluhur masyarakat Pengajaran, Jombang gelar ritual kejawen atau tradisi mensucikan diri di bulan Suro atau Muharram. 

Acara tersebut diselenggarakan di sumber mata air dekat dengan Sungai Tempur (Tirtowening Pangusadan) tepatnya lereng Gunung Anjasmoro Dusun pengajaran Desa Galengdowo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.

Advertisement

Ritual kejawen 2

Ki Ponaji, Sesepuh sekaligus pimpinan padepokan Damar Sasongko menceritakan kepada TIMES Indonesia, kegiatan ini sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan jasa para pahlawan yang telah mendahului kita.

"Kegiatan ini sebagai penghormatan kepada lelulur serta nguri-nguri budaya jawa agar tidak punah," katanya, Sabtu (5/9/2020).

Tradisi yang telah dibawa oleh nenek moyang kita ini bertujuan memayu hayuning bawono, istilahnya membela negara, membela NKRI lewat adat dan budaya.

Selain itu, tradisi ini juga sebagai pengingat bagaimana leluhur dulu babat alas membuka tempat ini desa maupun kota. Banyak masyarakat yang belum mengerti tentang tradisi ini sehingga orang menganggap ini perbuatan yang tidak baik.

Advertisement

"Kita memberi sesajen seperti apem, panggang ayam, tumpeng, jenang abang, jenang sengkolo sebagai simbol penyempurna alam dan rasa syukur kita kepada sang maha pencipta dengan alam seisinya. Kita berterimakasih kepada alam karena kita berwatak bumi maksudnya membiasakan watak welas, asih dan santun kepada siapapun dan dimanapun kita tidak boleh memandang sebelah mata," bebernya

Ritual kejawen 3

Kegiatan ini diikuti dari berbagai golongan tidak memandang ras, suku, budaya dan agama. Siapapun boleh mengikuti acara ini.

"Kita tidak membedakan ras, suku, budaya dan agama. Selagi mau menghidupkan budaya kejawen ini," tegasnya.

Acara tersebut selain memanjatkan doa dengan kepercayaan masing-masing. Juga diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan membaca teks Pancasila sebagai simbol cinta tanah air dan bangsa Indonesia.

Di akhir acara tradisi mensucikan diri di bulan Suro, peserta juga membacakan ikrar bersama yang isinya tentang menjaga kedaulatan NKRI serta meneruskan perjuangan leluhur nenek moyang. Serta di akhiri dengan mencuci muka dengan air sumber dan sungai sebagai simbol pensucian diri pada bulan Muharram (Suro). (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia