Advertisement
Peristiwa Daerah

Dr Dwi Cahyono: Program Wisata Toleransi untuk Milenial FKAUB Malang Raya untuk MCT 

Pakar sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dr Dwi Cahyono meyakini, program Wisata Toleransi untuk kalangan milenial yang digodok tim FKAUB Malang Raya membawa banyak manfaat. Selain untuk pendidikan toleransi dan keberagaman, FKAUB juga berkeinginan me

TIMES Indonesia,
Dr Dwi Cahyono: Program Wisata Toleransi untuk Milenial FKAUB Malang Raya untuk MCT 
Pakar sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dr Dwi Cahyono.
A-AA+

MALANG Pakar sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dr Dwi Cahyono meyakini, program Wisata Toleransi untuk kalangan milenial yang digodok tim FKAUB Malang Raya membawa banyak manfaat. Selain untuk pendidikan toleransi dan keberagaman, FKAUB juga berkeinginan membuat terobosan Malang City of Tolerance (MCT).

"Program ini bisa kita jalankan di Malang. Dengan kondisi geografis dan demografi Kota Malang yang heterogen dengan masyarakat urban, kota ini cukup pas kita jadikan sebagai kota toleransi. Malang City of Tolerance atau MCT," jelas Dwi.

Advertisement

Hal itu terungkap dalam diskusi beberapa tokoh FKAUB, para Duta Pancasila, pengurus ormas, dan kalangan media di Graha Kosgoro Jl Pandan 5 Kota Malang, 12 Desember 2020 lalu. 

Dr Dwi Cahyono b

Dwi memandang, menumbuhkembangkan toleransi harus diwujudkan sejak dini. Artinya, ada baiknya internalisasi itu diawalkan sedari dini. Sejak usia anak-anak. Atau paling tidak di usia remaja.

"Memang, mengucapkan kata toleran itu mudah. Namun tidak gampang untuk dijadikan sikap, terlebih lagi diimplementasikan jadi tindakan," ucap Dwi.

Toleransi, kata dia, bukan merupakan produk yang instan. Alih-alih adalah muara dari proses panjang, yakni muara dari penumbuhkembangan. Oleh karena itulah, musti diikhtiarkan secara bertahap dan berke- lanjutan.

Advertisement

Caranya? "Dimulai dari  mengenalkan. Lalu memahamkan
Seterusnya, di-inhern-kan ke dalam diri menjadi sikap dan perbuatan hidup," jelasnya.
 
Apa bentuk kegiatannya? Dwi menjelaskan, untuk mengenalkan dan memahamkan toleransi kepada kaum muda dan generasi milenial, ada ragam cara dan wahana untuk kepentingan itu. Tidak terkecuali cara mudah "tak kenal maka tak sayang" dan sekaligus menyenangkan.

Misalnya, via kewisataan khusus, yang bisa diberi sebutan Wisata Tolerasi (Toleratie Plezier). Yakni sebuah special tourism atau wisata tematik. 

Apa itu wisata toleransi? Menurut Dwi, orang-orang yang menganut agama maupun keyakinan yang berbeda terlibat di dalam suatu kegiatan wisata bersama untuk menyambangi tempat peribadatan dari agama yang berlainan. 

"Nah, akan lebih afdlol bila tempat-tempat ibadah itu sekaligus adalah bangunan keagamaan yang heritage. Dengan ikhtiar yang demikian, maka beberapa manfaat dapat diperolehnya dengan sekaligus. Ibarat dengan sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui," jelas Dwi.

Manfaat itu seperti manfaat rekreatif, edukatif, yakni edukasi budaya. Lalu manfaat faedah dan sosial. "Manfaat sosial ini khususnya adalah kerukunan sosial dalam keberagaman," tandas Dwi soal Wisata Toleransi yang digagas FKAUB Malang Raya ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M
PenulisMohammad Naufal Ardiansyah Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia