Desa Kayuares Banjarnegara Bantu Relokasi Korban Bencana Alam Dukuh Kuweni
Bencana alam longsor dan tanah bergerak yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah membuat keprihatinan sejumlah pihak. Tidak hanya dari kalangan eksekutif dan legislatif saja.

BANJARNEGARA – Bencana alam longsor dan tanah bergerak yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah membuat keprihatinan sejumlah pihak. Tidak hanya dari kalangan eksekutif dan legislatif saja.
Sejumlah pengusaha lokal mulai berdatangan memberikan bantuan dan suport kepada para korban terdampak yang saat ini berada di pengungsian. Tercatat, sedikitnya 500 jiwa diungsikan.

Sebagian besar, terutama ibu dan anak-anak masih dalam pengawasan petugas BPBD dan PMI di rumah-rumah pengungsian. Sedang untuk pengungsi laki-laki sudah mulai melakukan aktifitas.
Berdasarkan informasi BPBD Banjarnegara, lokasi bencana terparah menimpa warga Dukuh Kuweni Desa Gumingsir Kecamatan Pagentan. Semua warga sekampung diungsikan akibat rumahnya terancam ambruk akibat pergeseran tanah yang masih berlanjut hingga saat ini.
174 warga Kampung Kuweni diungsikan di Desa Kayuares, desa tetangga paling aman dari bencana alam. Di sini, pengungsi dibagi jadi 2 kelompok, yakni kelompok laki-laki 80 orang dan 94 ibu dan anak, menempati Rumah Bola SSB Andalas. Kedua tempat tersebut adalah milik H Kodam, Kades Kayuares.
Kepada TIMES Indonesia, Kodam menyampaikan, prihatin saat mendapat kabar, rumah warga di kampung sebelah mau diungsikan karena tempat tingga mereka terancam roboh karena pergerakan tanah.
"Saat itu di Kayuares pun ada rumah warga dan sebuah masjid yang rusak karena tanah lonsor, namun semuanya dapat ditangani oleh pihak desa. Dan saat ini sudah kembali normal," katanya, Jumat (18/12/2020)
Namun kerusakan rumah di Kuweni terbilang berbahaya karena pergerakan masih berlangsung. Bahkan beberapa rumah sudah dibongkar untuk dipilah bahan material yang masih layak.
Maka saat mendapat informasi, warga Kuweni akan dievakuasi ke Desa Kayuares, Kodam langsung meyiapkan Rumah Bola untuk menampung para pengungsi. Di sini ada dua tempat bagi mereka yakni di lantai 2 dan 3. Dengan perlengkapan seadanya mereka tampak terlayani dengan baik.
"Alhamdulilah, kami mendapat bantuan kasur dari teman kades di Kecamatan Pagentan sebanyak 29 buah. Kemudian pihak desa Kayuares sendiri membantu 30 buah dan BPBD 4 buah dan bantuan 80 bantal dari ibu-ibu PKK Desa Kayuares," kata Kodam.
Untuk MCK juga cukup memadai, tersedia 4 km/WC. Pengawasan kesehatan kepada para pengungsi juga bagus, karena bersebelahan dengan Posko PMI, sehingga jika ada keluhan, maka segera ditangani oleh petugas kesehatan yang standby 24 jam.
Kodam berharap, para pengungsi 'kerasan' dan jangan sungkan tinggal di Rumah Bola karena ia menganggap mereka adalah kerabat sendiri. Apalagi dalam benak Kodam, tempat ini bukan miliknya, tapi titipan Allah SWT.
Kodam justru merasa tenang, jika mereka betah tinggal di Rumah Bola. Karena Kodam menganggap mereka keluarga. Sehingga ia berusaha memberikan perhatian lebih pada mereka.
Bahkan saat mendapat informasi, Pemdes Gumingsir belum menemukan tempat ideal untuk relokasi, pihak Desa Kayuares menawarkan dua lokasi yang dinilainya representatif untuk tempat hunian.

Kodam menggambarkan, jumlah KK di Kampung Kuweni 53 kepala keluarga (KK), sedang rumah yang terdampak sebanyak 42 KK. Sehingga luasan tanah yang dibutuhkan minimal 0,5 HA atau 5.000 M2. Dengan asumsi 99 M2 X 42 plus 30 persen untuk fasilitas umum.
Dua lokasi itu berada di Desa Kayuares, sekitar 500 m dari perbatasan desa Kayuares dan Gumingsir. Luas lokasi pertama 5.174 m2 dan lokasi ke 2, 6.000 m2. "Tempat ini masih disurvei tim geologis Bandung dan kita masih menunggu hasil kajiannya," kata Kades Kayuares, Kabupaten Banjarnegara ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


