Masyarakat Tasikmalaya Perlu Edukasi Pengenalan dan Penanganan Ular
Sebagian besar manusia takut akan binatang yang bernama ular. Namun di balik itu, ular justru dibutuhkan dan harus ada di sekitar lingkungan kita untuk menjaga rantai makanan (food chain) tetap berputar seimbang.

TASIKMALAYA – Sebagian besar manusia takut akan binatang yang bernama ular. Namun di balik itu, ular justru dibutuhkan dan harus ada di sekitar lingkungan kita untuk menjaga rantai makanan (food chain) tetap berputar seimbang.
Beberapa fakta dan alasan tentang mengapa kita harus mengetahui keberadaan ular, di antaranya ular adalah pemakan hewan dan hama yang membawa penyakit bagi manusia. Satwa yang habitatnya paling dekat dengan manusia, merupakan satwa liar yang sangat pintar beradaptasi di lingkungan manusia.
Ular tidak membuat sarang, dia bergerak terus melintas dan mencari makan di manapun dia berada. Seringkali kita panik melihat ular.

TIMES Indonesia berbincang dengan seorang pemerhati ular Kota Tasikmalaya Harun Ar Rosyid. Ia juga sebagai relawan SIOUX Indonesia, yaitu sebuah Yayasan yang bergerak di bidang studi ular berpusat di Jogyakarta. Harun ditemui di karantina ular di Jalan RE. Martadinata 259 Jati Indihiang Kota Tasikmalaya.
Harun yang akrab disapa Bang Harun pada hari Rabu siang (3/2/21) menceritakan tentang beberapa peristiwa keberadaan ular. Baginya, suatu keprihatinan bahwa di Kota Tasikmalaya edukasi tentang ular kepada masyarakat masih sangat minim. Ini bisa terlihat di tahun 2020 terlaporkan ada 6 korban terpatuk ular dan tidak tertolong nyawanya.
Bahkan sebulan yang lalu, peristiwa gigitan ular (snake bite) menimpa Pak Ijan Warga Kecamatan Indihiang.
Dia digigit oleh seekor Ular Welang (Bungarus Candidus) sewaktu diminta tolong oleh tetangganya untuk menangkap seekor ular di rumah. Ular ini mememiliki jenis bisa Neuro toxin yang menyerang otot saraf organ vital. Pada bekas gigitan tidak terjadi pembengkakan dan rasa sakit pada titik gigitan. Tetapi dalam waktu 3 sampai 5 jam akan berekaksi melumpuhkan syarat organ vital manusia.

Di tempat karantina Bang Harun ada 128 ekor ular dari berbagai spesies, di antaranya elapidae, colubridae, phytonidae, Viperidae. Rencananya ular tersebut akan dilepaskan kembali ke habitat aslinya yang jauh dari aktivitas manusia.
Bang Harun berharap ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya bisa dibagikan kepada seluruh masyarakat. Pasalnya, di Tasikmalaya baru ada 3 relawan yang paham terhadap penanganan ular (snake rescue). “Itu pun baru saya yang memiliki sertifikat snake handler dan instruktur,” ungkapnya.
Harun pun menambahkan dan menawarkan diri apabila ada masyarakat di Kota Tasikmalaya yang memerlukan penanganan (snake rescue) ataupun ingin tahu lebih detail perihal ular bisa menghubungi dirinya pada nomor telpon 082135556406 atau datang ke Jalan RE. Martadinata 259 Jati Indihiang Kota Tasikmalaya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya H. Ucu Anwar menyambut baik harapan Bang Harun.
“Kita akan membuat satu aktivitas kerja sama pengenalan dan penanganan perihal ular, khususnya bagi para satgas BPBD, agar tidak terulang kembali peristiwa yang merenggut nyawa masyarakat,” ungkapnya saat ditemui di Gedung Dakwah Islamiyah Kota Tasikmalaya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

