Masuk Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Pasport Disambut Gembira
Saat memasuki kota Banjarnegara, Jawa Tengah tampak terpampang spanduk berukuran besar bertuliskan "Masuk Kota Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Pasport". Hal ini tentu menjadi perhatian masyarakat dan pengguna jalan.

BANJARNEGARA – Saat memasuki kota Banjarnegara, Jawa Tengah tampak terpampang spanduk berukuran besar bertuliskan "Masuk Kota Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Pasport". Hal ini tentu menjadi perhatian masyarakat dan pengguna jalan.
Spanduk seperti ini terpasang di tiga titik wilayah jalan nasional Banjarnegara, yakni Purwareja Klampok, Mandiraja dan Sigaluh. Pesan apa sih yang ada dispanduk tersebut dan siapa yang memasang?
Seperti diketahui pada hari pertama, Sabtu (6/2/2021) 'Jateng di Rumah Saja' Bupati Banjarnegara melakukan kunjungan ke Pasar Karangkobar untuk melihat dari dekat aktifitas pedagang dan warga pasar tersebut bersama Forkopimda.
Terkait edaran Gubernur Jateng tentang pemberlakukan Jateng di Rumah Saja selama dua hari, Bupati Banjarnegara mengambil opsi C, memperbolehkan pasar, toko dan kafe tetap buka. Sehingga kegiatan perekonomian warga tetap berjalan.
Sementara terkait dengan pasangan spanduk tersebut, para pengguna jalan tampaknya setuju dan senang dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
Apalagi pada 2 hari pelaksanaan gerakan "Jawa Tengah di rumah saja" tanggal 6-7 Februari, banyak daerah yang melakukan pemeriksaan ketat di tapal batas wilayahnya guna mengantisipasi penyebaran Covid-19.
Suhadi (53) asal Rakit mengaku sangat setuju dengan kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Banjarnegara dengan tidak mengeluarkan aturan yang terlalu ketat yang justru merepotkan masyarakat yang hendak melakukan aktivitas ekonomi.
Pedagang benih ikan ini khawatir kalau bepergian ke Kabupaten tetangga untuk menjual dagangannya.
"Takut kena razia, nanti harus antigen, harus rapid tes dan swab, uang dari mana. Kita sekarang lagi susah malah," kata Suhadi di Banjarnegara, Minggu (7/2/2021).
Senada dengan itu, Soenarko (51) warga Banyumas yang menjadi guru di sebuah sekolah di Banjarnegara turut gembira dengan kebijakan tersebut. "Kami sudah sangat menjaga protokol kesehatan, jadi kalau harus menghadapi pemeriksaan seperti itu, ya mending menghindar," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Budhi Sarwono istilah "paspor" mungkin merujuk pada banyaknya keluhan masyarakat yang keberatan ketika masuk ke lain daerah, harus diperiksa dan harus punya surat-surat dan kelengkapannya.
"Memang tidak tiap hari dan tiap saat, tapi mereka jadi was-was jika ingin bepergian. Nah, untuk pendatang yang masuk Banjarnegara, tidak ada rapid, swab atau antigen. Hanya diperintahkan cuci tangan dan pakai masker dengan benar," jelas Budhi.
Masyarakat, jelas Budhi Sarwono, sudah pintar. Baik tua maupun muda mayoritas sudah teredukasi dengan baik untuk kesadaran mematuhi protokol kesehatan.
"Masyarakat sudah sadar menjaga protkes. Sekarang yang diperlukan adalah memperbaiki ekonomi ekonomi. Kalau ekonomi bangkit, masyarakat tercukupi kebutuhannya, dengan begitu imun meningkat. Sehingga mereka bisa menjaga kesehatannya secara baik dan mandiri," imbuhnya.
Hingga hari kedua pelaksanaan gerakan 'Jawa Tengah di Rumah Saja' di Banjarnegara, pasar tradisional, toko modern, rumah makan, kafe dan kegiatan ekonomi rakyat tetap berjalan seperti biasa biasa. Namun Banjarnegara masih menerapkan PPKM tahap kedua hingga 8 Februari besok.
Menurut pengamatan TIMES Indonesia, petugas gabungan dari Polres Banjarnegara dan Satpol PP tampak berjaga di akses jalan menuju pusat Kota Banjarnegara. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


