Secangkir Kopi De Djawatan dan Nostalgia Perjalanan Hidup Wabup Sugirah
Begitu dia datang, seorang pelayan langsung tergopoh-gopoh mendekat. Sambil merunduk tanda hormat, tangan kanannya menyodorkan secangkir kopi.

BANYUWANGI – Begitu dia datang, seorang pelayan langsung tergopoh-gopoh mendekat. Sambil merunduk tanda hormat, tangan kanannya menyodorkan secangkir kopi.
“Mohon izin bapak, sebelum bapak memesan, sudah kami sajikan. Ini kopi De Djawatan bapak, produk kami, spesial untuk bapak,” ucap Musmulyadi, staf Polmob Perhutani KPH Banyuwangi Selatan sambil berdiri di samping pelayan.
Begitulah suasana Cafe Gong Djawatan siang itu. Tamu pria berkemeja lengan pendek putih yang baru saja datang adalah H Sugirah S Pd, M Si. Yang tak lain adalah Wakil Bupati Banyuwangi.

Di meja VIP, didalam rumah Osing cafe, beberapa orang sudah sejak tadi menunggu. Ada Waka Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Muhlisin Sabarna, Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, Zamroni SH dan Staf Ahli Ketua DPD RI, Moh Emin Effendi.
Di meja sebelah juga ada Ketua Ormas Pembela Adat dan Budaya Banyuwangi (Balawangi), Sholehudin serta General Manager TIMES Indonesia Banyuwangi, Syamsul Arifin alias Bono.
“Selamat datang bapak,” terdengar silih berganti sambil berjabat tangan.
Sedang di beberapa sudut meja, nampak sekawanan pemuda ikut hormat membungkukkan badan. Mereka adalah jajaran pengurus Pemuda Pancasila dan Balawangi.

Cafe Gong Djawatan, dengan konsep natural minimalis yang berada didalam area destinasi De Djawatan. Sebuah tempat wisata di bawah naungan Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, yang sudah mahsyur seantero Nusantara.
Suasananya sejuk dan teduh di bawah rimbunnya dauh pohon trembesi. Maka tak heran, cafe Gong Djawatan menjadi tempat ngopi primadona para wisatawan.
Apalagi, Musmulyadi si owner cafe menawarkan sajian kopi spesial. Yakni kopi De Djawatan. Kopi yang dibuat dari bahan biji kopi pilihan. Biji kopi asli Banyuwangi. Diolah dengan cara alami, tradisional warisan turun-temurun. Hingga tercipta rasa kopi yang pas, nikmat serta menyehatkan.
“Rasanya mantap sekali kopinya,” ujar Sugirah, sambil menyeruput untuk kedua kalinya.
Larut dalam obrolan, suami dari Hj Budi Sayekti itu mulai bernostalgia tentang perjalanan hidupnya. Sebagai masyarakat desa tepi hutan, dia sebelumnya adalah seorang pesanggem. Dengan menjadi pengurus LMDH, Sugirah muda mendapat jatah tanah garapan dari Perhutani seluas setengah hektar.
Namun karena ada beberapa masyarakat kurang mampu, akhirnya dia harus merelakan lahan garapan untuk dibagi. Meskipun ekonomi keluarga Sugirah kala itu masih jauh dari kata mapan.
“Jadi saya ke sini ini (Destinasi De Djawatan), saya nostalgia. Semua orang tahu saya itu petani pinggir hutan, pesanggem,” katanya.
Dalam gesah santai, politisi PDI Perjuangan asal Desa Seneporejo, Kecamatan Siliragung, ini juga menyampaikan harapan kepada para generasi muda desa. Untuk tidak malu dan enggan menggeluti profesi pertanian. Selain profesi mulia, menjadi petani itu sama dengan berperan serta mempertahankan status Banyuwangi, sebagai lumbung pangan nasional.
Ya, dan memang harus diakui. Saat menjadi seorang petani, bukan berarti seluruh cita-cita dan harapan pemuda akan pupus. Terbukti, H Sugirah yang berlatar belakang seorang petani, bisa menjadi Wakil Bupati Banyuwangi. Menjadi orang nomor 2 di Bumi Blambangan.
Bahkan menjadi satu-satunya putra daerah domisili Banyuwangi wilayah selatan yang mencatatkan diri sebagai Wakil Bupati Banyuwangi.
“Yang kami sangat kagum, beliau kan sekarang seorang Wakil Bupati, tapi tetap saja merakyat, pengunjung De Djawatan yang minta foto bareng tadi saja banyak yang muji,” celetuk Waka Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Muhlisin Sabarna, kepada TIMES Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


