Kisah Kakek Legendaris yang 57 Tahun Berjualan Koran di Kota Tasikmalaya
Sekitar pukul enam pagi Jalan KHZ Mustopa sekitar pusat Kota Tasikmalaya tampak masih sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan roda dua dan pejalan kaki melintas jalan dengan menenteng kantong plastik berisi sayuran.

TASIKMALAYA – Sekitar pukul enam pagi Jalan KHZ Mustopa sekitar pusat Kota Tasikmalaya tampak masih sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan roda dua dan pejalan kaki melintas jalan dengan menenteng kantong plastik berisi sayuran.
Tepatnya di depan Toko Sejahtera, seorang kakek penjual koran eceran sedang menata dan merapikan Koran jualannya. Ia mulai menumpuk koran di bagian bawah sampai memajang pada etalase yang terbuat kayu bekas gulungan rol kain limbah toko tekstil di sekitar lapaknya.

Jalan KHZ Mustofa merupakan salah satu jalan tertua di Kota Tasikmalaya. Selain itu, jalan ini memiliki makna sejarah yang berarti bagi Kota Tasikmalaya. Nama jalan tersebut merupakan salah satu nama pahlawan nasional yang berasal dari Kota Santri ini.
Masyarakat Kota Tasikmalaya yang lahir sekitar tahun 60-an pasti mengenal sosok wajah penjual koran di depan toko Sejahtera yang dulu adalah Toko Panjang, berjualan aneka pakaian berbahan bordiran dan kebaya.
Nana Semarna (74) itulah penjual koran eceran legendaris di Kota Tasikmalaya, warga Jalan Empangsari, Yudanegara, Cihideung, Kota Tasikmalaya yang masih eksis berjualan koran sampai saat ini.
"Alhamdulilah saya masih diberikan kesehatan oleh Allah, masih dapat dan kuat melangkahkan kaki dari rumah ke lapak jualan koran ini," ungkapnya kepada TIMES Indonesia di sela kesibukannya menata koran dan merapih pajangan, Sabtu (24/4/21).
Nana mengaku dirinya berjualan koran sejak 1964, banyak suka dan duka dari profesi ini di antaranya mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah Indonesia. Selain itu juga mengenal beberapa pejabat di lingkungan pemerintah kota sekarang karena mereka adalah pelanggan lapak korannya.
Nana pun menambahkan rezeki nomplok selalu ia dapatkan kalau menjelang masa kampanye partai politik di masa pemilu. Karena saat itu permintaan koran sangat meningkat sekali. Begitu pula waktu menjelang dan akhir dari pertandingan sepak bola tim Persib Bandung.
Kisah duka pun ia ceritakan, jualan di lapak emperan toko di KHZ Mustofa bukanlah hal yang nyaman. Sudah beberapa kali dari tahun ke tahun harus berpindah lapak bahkan berurusan dengan pihak berwajib karena lapaknya dianggap melanggar aturan dan mengganggu pengguna jalan.

"Kalau tidak salah di tahun 70-an bangku tempat jualan koran saya diambil oleh petugas polisi lalu dibuang di Manonjaya. Kalau sama Tibum (istilah petugas Pamongpraja) saya selalu diomelin dan dikejar-kejar. Yang paling menyedihkan selama berjualan koran adalah kehilangan uang di lapak sebesar Rp 600.000, kalau dibandingkan sekarang mungkin tiga jutaan," tuturnya.
Pria yang rambutnya sudah dipenuhi dengan ini uban menuturkan, dirinya masih eksis berjualan koran karena tidak bisa meninggalkan kebiasaan. Kalau dirinya diam di rumah malah badannya tidak enak karena tidak digerakkan.
Sampai saat ini dirinya tetap membuka lapak korannya mulai pukul 06.00 WIB dan pulang pukul 17.30 WIB. Melalui profesi berjualan Koran di Kota Tasikmalaya ini, dirinya berhasil menyekolahkan tujuh putra dan putrinya bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

