Advertisement
Peristiwa Daerah

Sejumlah Kampung Tematik Terancam Dibekukan, Ini Saran DPRD Kota Malang

Kampung tematik yang menjadi andalan wisata di Kota Malang selama pandemi Covid-19 ini memang sedikit mengalami penurunan kegiatan dan pengunjung. Bahkan beberapa ada yang tak terawat.

TIMES Indonesia,
Sejumlah Kampung Tematik Terancam Dibekukan, Ini Saran DPRD Kota Malang
Kampung Budaya Polowijen saat menggelar tari yang diikuti oleh sejumlah warga. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Kampung tematik yang menjadi andalan wisata di Kota Malang selama pandemi Covid-19 ini memang sedikit mengalami penurunan kegiatan dan pengunjung. Bahkan beberapa ada yang tak terawat.

Ketua Forum Kelompok Sadar Wisata (Forkompokdarwis) Kampung Tematik Kota Malang, Ki Demang bahwa sejumlah kampung tematik di Kota Malang ini terancam dibekukan karena tidak ada pemasukan hingga kunjungan wisata.

Advertisement

Sejumlah kampung tematik yang terancam dibekukan tersebut, yakni Kampung Keramat, Bambu Mewek, Gerabah Penanggungan, Kampung Putih, Rolak Indahku dan Kawasan Wisata Panawijen.

Mendengar hal itu, Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika mengatakan, dirinya sangat menyayangkan bahwa sejumlah kampung tematik tersebut terancam dibekukan.

Padahal, alokasi anggaran untuk kampung tematik tersebut pun juga sudah ada. Pemkot Malang sendiri harus bisa memetakan dan bergerak cepat untuk bisa memetakan kampung tematik yang ada.

"Alokasi anggaran sudah ada dan semisal kalau ada yang dibekukan, tentu itu menjadi pertanyaan. Pemerintah harus hadir dan itu mengatasi hal ini," ujar Made, Senin (24/5/2021).

Made mengatakan, setelah Pemkot Malang melakukan pemetaan, nantinya harus bisa tahu bahwa pengonsepan kampung tematik itu sendiri berangkat dari muatan lokal.

Advertisement

Menurut Made, setiap konsep yang tidak muncul secara alami dan terkesan dibuat-buat memang dirasanya tak akan bisa bertahan lama. Maka dari itu, konsep yang dipakai ialah membangun kampung tematik yang muncul dari kesadaran masyarakat lokal dan juga tradisi lokal.

"Karena pada akhirnya menjaga itu lebih sulit daripada merawat. Kalau menciptakan itu gampang. Maka dari itu, kalau ingin bertahan lama, ya jangan memaksakan konsep dari luar. Biarkan muncul secara alami dengan sendirinya," ungkapnya.

Dirinya memberi contoh, seperti halnya pembangunan Kayutangan Heritage Malang yang memakai embel-embel mengadopsi konsep Malioboro. Hal tersebut tentunya tidak bisa ditelan mentah-mentah dan harus melihat sisi lokalnya, karena pasti ada yang berbeda.

Artinya saat membangun atau mengonsep sebuah kampung tematik, harus membawa muatan lokal. Apalagi lebih baik lagi juga bisa menunjang ekonomi pariwisata, seperti UMKM, pelaku seni hingga pelaku industri kreatif lainnya.

Meski begitu, terkait konsep kampung tematik perlu dibicarakan lagi lebih matang, baik dengan legislatif maupun masyarakat lokalnya sendiri. "Memang harus melibatkan kerja sama antar lintas stakeholder. Semua harus terlibat. Dengan begitu roda ekonomi pariwisata di Malang bisa kembali bergeliat dan juga ekonomi masyarakatnya bisa ikut bergerak," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizky Kurniawan Pratama
PenulisRizky Kurniawan PratamaSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang (2019). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020. Meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Kriminal, Ekonomi, Budaya dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia