Sel Tahanan Penuh Napi Narkoba, Brigjen Pol Aris Purnomo: Tak Cukup Strategi Hard Power
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur Brigjen Pol Drs Mohammad Aris Purnomo menyatakan sepanjang pandemi peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) masih menjadi ancaman bagi Bangsa Indonesia.

SURABAYA – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur Brigjen Pol Drs Mohammad Aris Purnomo menyatakan sepanjang pandemi peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) masih menjadi ancaman bagi Bangsa Indonesia.
BNNP Jatim sendiri telah menerapkan berbagai strategi penanggulangan secara massif sesuai arahan BNN Pusat.
Strategi soft power melalui edukasi, hard power melalui pemberantasan, dan smart power melalui media branding.
Brigjen Aris melihat saat ini tantangan penanggulangan semakin berat. Karena sindikat juga akan menggunakan berbagai cara demi meraup keuntungan.
"Mereka akan selalu menciptakan zat-zat adiktif atau NPS (New Psychoactive Substance)," tandas Perwira Tinggi Polri yang mengemban amanat sebagai Kepala BNNP Jatim sejak 29 April 2021 tersebut, Rabu (23/6/2021).
Kejahatan internasional yang terorganisir melalui candu, jelasnya, memang telah terjadi sejak berabad silam. Namun saat ini yang bermain adalah para sindikat internasional. Mereka didukung oleh anggaran dana kapital yang cukup besar.
"Bisa jadi ini juga salah satu Proxy War yaitu perang tapi menggunakan tangan orang lain yaitu narkoba," ungkapnya.
Belum lagi kondisi carut marut perekonomian bahkan disebut membuat perdagangan barang haram ini sebagai alternatif iming-iming pemasukan. Terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Sering saya temui di daerah slum atau daerah kumuh, rata-rata kemiskinan. Mereka tentunya akan menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan uang," tegasnya.
Lulusan Akpol 1988 yang berpengalaman dalam bidang reserse itu membeberkan, jumlah narapidana kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia bahkan mendominasi 80 persen isi sel tahanan.
"Kasus-kasus lain ini kecil. Sekarang 70-80 persen ini kasus narkoba," ujar Direktur TPPU BNN RI tahun 2020 tersebut.
Sehingga, tegasnya, pemerintah harus menambah anggaran membangun Lapas baru khusus narkoba. Termasuk anggaran untuk rehabilitasi.
Dengan demikian, Brigjen Pol Aris menegaskan, strategi hard power tak akan menyelesaikan masalah. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Di mana jarak perbatasan antar negara cukup dekat. Hanya berbatas selat dan hutan. Sehingga memungkinkan para sindikat menyelundupkan barang haram.
"Itu tantangan kita," tandasnya.
Oleh karena itu, Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Drs Mohammad Aris Purnomo mengimbau agar seluruh elemen masyarakat agar bersama-sama nyatakan perang melawan narkoba. BNNP sendiri telah memiliki program Desa Bersinar (Desa Bersih Narkoba).
Desa Bersinar mengajak aparat desa dan masyarakat mampu melawan narkoba secara mandiri. Pemerintah setempat mempersiapkan regulasi dan Perda tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Terbaru, imbuh Brigjen Pol Drs Mohammad Aris Purnomo, BNN juga mempersiapkan program dengan Kemendes PDTT perihal alokasi dana desa untuk giat penanggulangan narkoba.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


