Advertisement
Peristiwa Daerah

BMKG Jatim: Fenomena Langit Terbelah di Pacitan Bukan Tanda Bencana

Video fenomena alam langit terbelah terjadi di Kawasan Pacitan beredar luas di media sosial. Video tersebut sempat dibagikan oleh warga

TIMES Indonesia,
BMKG Jatim: Fenomena Langit Terbelah di Pacitan Bukan Tanda Bencana
Fenomena alam langit terbelah di Pacitan. (Foto: Tangkapan layar Youtube Heru Pacitan)
A-AA+

SURABAYA Video fenomena alam langit terbelah terjadi di Kawasan Pacitan beredar luas di media sosial. Video tersebut sempat dibagikan oleh warga melalui akun YouTube salah satu warga Pacitan.

Unggahan video YouTube berdurasi 3.07 menit pada Jumat, 6 Agustus 2021. Dalam video langit terbelah di Pacitan itu, pemilik akun YouTube Heru Pacitan mengatakan jika fenomena tersebut terjadi di atas lapangan Kodim Kabupaten Pacitan.

Advertisement

Fenomena langit terbelah juga ramai diperbincangkan netizen di akun Facebook 'Pacitan Network'.

Postingan di Instagram dan Facebook itu pun mendapat beragam komentar dari netizen. Bahkan, ditayangkan berulangkali dan mendapat sejumlah likes.

Lantas, bagaimana penjelasan dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jatim perihal tersebut?

PMG Stasiun Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya, Rendy Irawadi mengatakan, ada kemungkinan awan yang berbentuk seolah terbelah itu merupakan jejak pembakaran dari pesawat yang melintas. Atau bisa jadi karena suhu yang ada di kawasan sekitar lokasi tersebut.

"Berkemungkinan awan yang tebentuk merupakan contrail atau jejak sisa pembakaran oleh pesawat jenis jet biasa, pesawat tempur, atau sejenis awan rollcloud yang terbentuk," kata Irawadi saat dikonfirmasi, Minggu (8/8/2021).

Advertisement

Lebih lanjut Irawadi menjelaskan, faktor suhu dan iklim juga bisa menjadi penyebab terjadinya fenomena awan tersebut.

"(Bisa jadi) akibat adanya perbedaan suhu dari 2 masa udara yang bertemu. Awan jenis ini sering terjadi di Indonesia," ujarnya.

Irawadi lantas meminta kepada masyarakat untuk tak termakan berita bohong atau hoax serta narasi-narasi menggiring yang justru merugikan khalayak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Maka dari itu, ia meminta masyarakat untuk mengroscek kepada sumber resmi seperti BMKG, BPBD, hingga instansi terkait bilamana ditemui hal serupa.

Mengingat, fenomena alam serupa sering dikaitkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan bencana, seperti gempa dan pandemi Covid-19. Bahkan, kerap dibumbui aneka disinformasi yang membawa penonton atau pembaca mengarah pada hoax, atau yang dikenal dengan pseudo science yang disebar orang-orang nirpengetahuan.

"(Fenomena awan atau langit terbelah) itu bukan merupakan tanda-tanda akan terjadinya bencana," tandasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia