Advertisement
Peristiwa Daerah

Makna Hari Kesaktian Pancasila di Mata Milenial, Jadi Momentum Refleksi Sejarah

Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober menjadi momentum refleksi nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut disampaikan Ketua Duta Pancasila Kabupaten Malang Bilqis Islach Waffrodah

TIMES Indonesia,
Makna Hari Kesaktian Pancasila di Mata Milenial, Jadi Momentum Refleksi Sejarah
Ketua Duta Pancasila Kabupaten Malang Bilqis Islach Waffrodah. (Foto: Dok. Pribadi for TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober menjadi momentum refleksi nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut disampaikan Ketua Duta Pancasila Kabupaten Malang Bilqis Islach Waffrodah berkaitan dengan mengenang kembali sejarah para pahlawan revolusi.

"Sebagai generasi muda sepatutnya kita belajar dari sejarah, seperti yang dikatakan Bung Karno, JASMERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Para pendiri bangsa mencetuskan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Pancasila adalah kekuatan kita untuk berjuang membangun cita-cita kita," tegasnya, Sabtu (2/10/2021).

Advertisement

Selain itu, lanjut Bilqis, Pancasila menjadi pengingat bahwa di tengah semua situasi dan kondisi, kedaulatan Indonesia berdasar pada keadilan sosial dan persatuan seluruh lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, merefleksikan kembali nilai-nilai Pancasila pada hari ini merupakan awal yang baik untuk menyatukan cita-cita dan langkah bangsa ke depan.

"Situasi pandemi ini telah menunjukkan dengan lebih jelas sejumlah tantangan yang harus kita tangani untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas untuk seluruh rakyat Indonesia," imbuhnya.

"Peringatan Hari Kesaktian Pancasila perlu kita jadikan momentum untuk merefleksikan hal-hal yang telah dan harus kita lakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh di masa kini dan bangsa yang tangguh di masa yang akan datang," bebernya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Pancasila akan berperan sebagai titik berangkat sekaligus tujuan pembangunan bangsa dan negara kita. Kebangkitan dan kemajuan bangsa kita dari pandemi ditentukan oleh kemerdekaan anak-anak Indonesia untuk mengembangkan potensinya sendiri dengan kemampuan dan panggilan hatinya.

Advertisement

"Ini lah titik berangkat kita. Selanjutnya kemerdekaan dalam belajar, berkarya, kemerdekaan dalam berbudaya akan melahirkan generasi muda Pancasila, yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mampu bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif," ungkapnya.

Sebagai generasi Z dan milenial, kata Bilqis, pemuda adalah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun ke depan atas arah yang akan diambil oleh negara ini agar menjadi negara yang maju, moderen, sejahtera, tentunya terkemuka di mata dunia.

Tapi, nilai-nilai apa saja yang harus kita terapkan ke masyarakat Indonesia agar mimpi-mimpi ini bisa terealisasi? Dalam satu sisi generasi muda sekarang mempunyai keinginan besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa.

"Kami percaya akan pentingnya untuk negara-negara di luar sana melihat potensi keunikan dan kehebatan negara ini. Tapi, di sisi lain sampai detik ini kita masih sering berkelahi dan menjatuhkan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, suku, dan terutama agama," katanya.

Menurutnya, ini lah salah satu akar dari masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia sekarang. Hal itu disebabkan pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis.

Orang-orang terjebak dalam cara berpikir mereka telah memanusiakan Tuhan, merasa memiliki hak dalam mendikte kemauan Tuhan, merasa tahu pikiran Tuhan, dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan. Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal.

"Bahaya yang masyarakat kita alami sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi, menyesatkan generasi bangsa dengan prinsip hidup yang sebenarnya tidak ada dalam kitab suci agama. Kenapa bisa seperti itu? Karena kita kurang membimbing dan memberikan masyarakat yang dibutuhkan agar bisa memahami sebuah ajaran dengan akal kritis. Sehingga mereka menjadi tersesat dalam cara berpikir mereka dan lupa akan pentingnya menyeimbangi segala ilmu yang dipelajari dan dimiliki dengan nilai-nilai yang ada dalam budaya, since, atau aliran pemikiran lainnya," jelasnya gamblang.

Menurut perempuan asal Malang ini, penting untuk mengingatkan generasi muda akan indahnya, kayanya dan uniknya budaya-budaya yang dimiliki negara ini. Ajaran agama yang ada dalam sistem pendidikan harus adil dalam merepresentasikan agama-agama yang ada di negara ini.

"Mari kita ajarkan adik-adik kita membaca dan mempelajari dari segala sesuatu, berbagai sudut pandang. Serta gunakan teknologi yang semakin canggih ini sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi dan identitas Pancasila. Agar negara ini bisa kembali menjadi Indonesia sejati," ucapnya terkait Hari Kesaktian Pancasila. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M
PenulisMohammad Naufal Ardiansyah Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia