Advertisement
Peristiwa Daerah

Sampan Marsudi, Penghubung Dua Kecamatan di Ngawi

Selain melintas melalui jembatan, aliran sungai Bengawan Solo di Kabupaten Ngawi juga bisa dilewati dengan menggunakan sampan. Oleh warga Ngawi, sampan penyeberangan ini juga dikenal sebagai gethek. Yakni, sebuah perahu kayu dengan penambahan papan datar

TIMES Indonesia,
Sampan Marsudi, Penghubung Dua Kecamatan di Ngawi
Dermaga papan dari bambu, tempat berlabuh sampan/gethek Marsudi, dan tempat naik turun penumpang yang akan menyeberangi bengawan Solo. (Foto: M.Miftakul/TIMES Indonesia)
A-AA+

NGAWI Selain melintas melalui jembatan, aliran sungai Bengawan Solo di Kabupaten Ngawi juga bisa dilewati dengan menggunakan sampan. Oleh warga Ngawi, sampan penyeberangan ini juga dikenal sebagai gethek. Yakni, sebuah perahu kayu dengan penambahan papan datar agar bisa ditempati kendaraan.

Model transportasi air seperti ini masih bisa ditemukan di beberapa lokasi, di sepanjang aliran bengawan. Salah satu titik penyeberangan ada di Kelurahan Karangtengah Kota, Ngawi. Di sana, ada Marsudi (62), warga Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, Ngawi, yang siap membawa penumpang hingga ke seberang bengawan.

Advertisement

"Lalu lintas air antar kecamatan ini, bisa mengantar penumpang dari Kecamatan Ngawi ke Pitu, atau sebaliknya," katanya kepada TIMES Indonesia, Rabu (27/10/21).

Marsudi mengaku sudah puluhan tahun bekerja sebagai pengemudi gethek. Meski sudah tidak seramai dulu, dirinya masih belum ada rencana mengangkat dayungnya.

Setiap hari, Marsudi selalu setia membawa penumpang menyeberangi Bengawan. Waktu operasional, mulai pagi hari hingga saat jelang petang. Mayoritas penumpang warga Desa Selopuro, yang berjualan di Pasar Besar Ngawi. Namun tidak jarang, juga dari warga umum yang ingin memperpendek rute perjalanan, alih-alih lewat jembatan Ngunengan.

Masa keemasan perahu gethek disebut Marsudi saat era sebelum tahun 90 an. Saat itu, masih belum banyak dibangun jembatan seperti saat sekarang. Dalam sehari, waktu itu, masih ada ratusan warga yang menggunakan jasa penyeberangannya.

Sampan.jpg

"Kalau sekarang, dapat 25 orang sudah syukur. Daripada tidak ada sama sekali," ujarnya.

Satu kali menyeberang, penumpang hanya dikenai biaya Rp2 ribu saja. Itu untuk satu kali melintas. Jika bolak-balik, penumpang dikenai Rp4 ribu. Biaya senilai itu untuk melintasi rute penyeberangan sepanjang puluhan meter, saat air surut. Namun saat air naik, rute yang ditempuh bisa mencapai seratusan meter dari titik penyeberangan hingga seberang.

"Mau air naik atau surut, tetap beroperasi. Karena pekerjaannya cuma ini," ujarnya.

Selain mengangkut orang, gethek Marsudi juga bisa membawa kendaraan. Namun hanya khusus untuk kendaraan roda dua saja. Mengingat kapasitas yang terbatas, dan memperhatikan keselamatan perjalanan.

Sementara itu, Siti, warga Desa Selopuro, mengatakan, saat akan bekerja ke Ngawi, dirinya selalu menggunakan jasa penyeberangan Marsudi. Menurutnya, dengan menggunakan gethek, rute perjalanan jadi lebih dekat.

"Biar lebih dekat, saya aslinya Kecamatan Pitu, kerja di Ngawi. Kalau lewat jembatan muter, terlalu jauh, enak nyebrang dengan gethek, lebih dekat," katanya.

Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Aliran sungai ini membentang dan melintasi sejumlah Kabupaten/Kota. Selain lewat jembatan, sungai terpanjang ini juga bisa dilewati dengan sampan atau perahu gethek, seperti yang ada di Kabupaten Ngawi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia