Advertisement
Peristiwa Daerah

Tangkap Kera Perusak, Pemdes Ngreco Pacitan Gandeng LIPI dan BKSDA

Kabar baik, setelah berpuluh-puluhan tahun tak bisa bertani akibat hama kera ekor panjang, kini warga Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan Jawa Timur tak perlu lagi cemas dan bisa bercocok tanam kembali.

TIMES Indonesia,
Tangkap Kera Perusak, Pemdes Ngreco Pacitan Gandeng LIPI dan BKSDA
Kera didalam kansang Hasil Tangkapan yang akan di kirim ke Penakaran Jakarta (Foto: Susilo For TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Kabar baik, setelah berpuluh-puluhan tahun tak bisa bertani akibat hama kera ekor panjang, kini warga Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan Jawa Timur tak perlu lagi cemas dan bisa bercocok tanam kembali.

Hal ini dikatakan Kepala Desa Ngreco Susilo Hadi setelah melakukan pengurangan populasi ratusan kera ekor panjang bekerjasama dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

Advertisement

Dia menceritakan sejak tahun 1990-an kera ekor panjang mulai berada di Desanya. Pada saat itu lanjut Susilo Hadi belum terlalu banyak, namun sejak tahun 2002 populasi capai ribuan kera sering menyerang tanaman warga seperti jagung, ubi-ubian yang menjadi sumber perekonomian warga.

Pemdes Ngreco Pacitan 2
Tampak Warga setempat dan pihak BKSDA, KKH, LIPI, Pemdes Ngreco berkumpul melihat kera yang kondisinya sehat sebelum dikirim ke Jakarta (Foto: Susilo For TIMES Indonesia)

"Petani menanam apapun pasti diganggu kera. Secara otomatis tidak bisa panen, yang biasanya tanam jagung, ubi-ubian sejak itu tidak bisa bercocok tanam kembali," katanya, Kamis (11/11/2021).

Warga setempat sempat putus asa bagaimana solusinya agar kera bisa diusir, sehingga perekonomian warga Desa Ngreco bisa setabil. Sejak itu hanya menghandalkan dari hasil tanaman porang.

"Penduduk sini 6 ribuan lebih rata-rata petani, dengan luas 38 kilo meter persegi. Ya hanya tanaman porang yang menjadi hasil pertanian selama ini sejak kera itu ada," imbuhnya.

Advertisement

Lebih lanjut Kades Ngreco Susilo mengatakan pihaknya terus mengupayakan kepada Pemerintah Pusat agar ada pengurangan populasi kera di Desanya. Singkat cerita, sekitar bulan Juni 2020 lalu Desa Ngroco merupakan bagian dari lomba Kampung Tangguh Semeru yang dikunjungi langsung Bupati dan Kapolres Pacitan.

"Saat itu untuk stok ketahanan pangan ya saya sediakan porang. Saya pun ditanya sama Kapolres dan Bupati kenapa kok porang karena di Desa Ngreco tidak bisa bercocok tanam sayuran maupun lainnya akibat ulah kera," terangnya.

Setelah dia menceritakan soal itu, beberapa bulan kemudian dari pihak BKSDA dan LIPI survey ke Desa Ngreco namun anehnya saat di cek kelapangan tidak ada satupun kera muncul.

Pemdes Ngreco Pacitan 3

"Anehnya seperti itu, hampir saja putus asa. Namun, berkat doa dan keinginan masyarakat saat disurvei kembali pada hingga awal tahun 2021 memenuhi ijin dari Pemerintah Pusat untuk mengurangi populasi kera," jelasnya.

Karena Susilo Hadi tidak menginginkan masyarakat terus menderita tidak bisa bertani, apalagi akibat adanya Covid-19 dua tahun lebih ekonomi memprihatinkan.

"Untuk penangkapannya diberikan ijin hanya 330 ekor di bagi 2 kali. Cara tangkapnya tidak ditembak maupun dijebak, dari CV Primaco yang memang memiliki ijin terkait penangkapan kera bekerja sama dengan suku Baduy," kata, Susilo Hadi.

Herannya, dari 120 kera yang sudah terkumpul tidak ada sedikit pun mengalami luka, atau sakit, kondisi kera saat ini sehat semua di penampungan sebelum dikirim ke tempat penangkaran Jakarta.

"Mungkin sudah pawangnya, heran saya itu kera yang ditangkap itu tidak ada yang luka atau sakit, nurut sama suku Baduy," ucapnya.

Karena memang ini kata Susilo Hadi proses penangkapan semua diawasi oleh BKSDA dan LIPI, tidak boleh ada satu ekor pun mengalami sakit maupun luka. Sebab, ini hanya pengurangan dan pemindahan tempat.

"Kalau sampai ada yang luka dan sakit dari pihak CV kena sanksi. Sekali lagi ini pengurangan dan pemindahan, tidak boleh disakiti," jelasnya.

Dengan adanya program pengurangan populasi itu, disambut baik oleh masyarakat Desa setempat. Bahkan tanpa ada yang menyuruh para warga rela memberikan buah-buahan kepada kera hasil tangkapan agar tetap terjaga kesehatannya.

"Masyarakat sangat senang sekali, mereka rela berikan buah-buahan kepada kera hasil tangkapan tiap hari sebelum dikirim ke Jakarta," katanya.

Sementara tokoh masyarakat setempat Samsuri (48) mewakili warganya sangat bersukur berkat penangkapan kera ekor panjang itu ke depan bisa bertani kembali.

"Saya terimakasih sekali kepada Desa Ngreco yang telah menghubungkan dengan Pemerintah Pusat sekaligus mendatangkan suku Baduy menangkap kera yang selama ini membuat resah petani," terangnya.

Berkat pengurangan ini, ke depan para warga bisa kembali menanam jagung, ubi-ubian dan lain sebagainya untuk kedidupan sehari-hari, sebab sejak adanya kera petani lebih memilih merantau, hanya menanam porang.

Sebagai informasi bahwa resahnya masyarakat akibat ulah kera tak hanya terjadi di Desa Ngreco saja. Seperti Kebondalem, Gedangan Kecamatan Tegalombo pun juga resah. Untuk kedepan pihak KKH pusat mengharapkan ada dukungan dari Pemda Pacitan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rojihan
PenulisRojihanSarjana Managemen Pendidikan Islam di STAI NU Pacitan (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya, wisata, pemerintahan, pendidikan dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia