Advertisement
Peristiwa Daerah

Kolaborasi Generasi Z untuk Merawat Tradisi Desa Munggugianti Gresik

Tradisi sedekah bumi di Desa Munggugianti Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik terus dilaksanakan. Kali ini, kegiatan ini didikung generasi Z dari mahasiswa Universitas Cip ...

TIMES Indonesia,
Kolaborasi Generasi Z untuk Merawat Tradisi Desa Munggugianti Gresik
Sedekah bumi yang digelar di Desa Munggugianti (Foto: Akmal/TIMES Indonesia).
A-AA+

GRESIK Tradisi sedekah bumi di Desa Munggugianti Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik terus dilaksanakan. Kali ini, kegiatan ini didikung generasi Z dari mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya.

Tim pengabdian masyarakat International Business Management (IBM), School of Management Universitas Ciputra ikut terlibat aktif dalam acara tahunan Sedekah Bumi dan Pagelaran Wayang Kulit Desa Munggugianti.

Advertisement

Hal ini bertujuan untuk memberi nilai inovasi dalam tradisi desa sekaligus upaya “nguri-nguri kabudayan” serta memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda agar terpelihara jiwa nasionalismenya.

Pjs Kepala Desa Yudi Yulianto mengatakan, Desa Munggugianti selalu berupaya untuk melestarikan tradisi desanya dan mengedepankan rasa syukur atas kelimpahan hasil panen yang mereka peroleh melalui kegiatan Sedekah Bumi. 

Acara kirab Tumpeng Agung yang dilaksanakan pada acara sedekah bumi tersebut memiliki makna berbagi dengan sesama makhluk hidup yang ada di bumi, baik itu manusia dan juga hewan lainnya yang ikut merasakan. 

"Acara ini memiliki makna yang mendalam atas rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga memperingatkan manusia untuk terus bisa berbagi dengan sesama," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima TIMES Indonesia pada Minggu (19/21/2021).

Sedekah-bumi-2.jpg
Arak-arakan kegiatan kebudayaan (Foto: Akmal/TIMES Indonesia).

Penyelenggaraan acara sedekah bumi, kata Yudi diawali dengan berbagai persiapan, seperti membuat “Tumpeng Agung” yang terdiri dari aneka buah dan sayur yang disusun hingga membentuk tumpeng raksasa dengan tinggi sekitar 4 meter dengan diameter kurang-lebih 2 meter. 

Tumpeng Agung tersebut nantinya akan diarak dari telaga di Dusun Gianti hingga tujuan akhir di balai desa. Pengarakan Tumpeng Agung Tersebut akan diiringi dengan 4 tumpeng kecil sebagai pendamping. 

“Tradisi sedekah desa ini sudah turun temurun dari leluhur kami, akan tetapi semenjak wabah Covid-19 melanda, dua tahun belakangan ini tidak diselenggarakan. Acara Sedekah Bumi ini sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan karena hasil bumi yang telah kita peroleh. Nanti ada total 5 tumpeng yang mau di-arak sampai ke balai desa, setelah selesai itu didoakan, baru hasilnya (buah dan sayur) di tumpeng itu kita ambil sama-sama,” ujar Ahmad Farid, Ketua Karang Taruna Desa Munggugianti. 

Rangkaian acara sedekah bumi pada tanggal 18-19 Desember 2021 diawali dengan doa bersama untuk meminta keselamatan dan ucapan rasa syukur, kemudian dilanjutkan dengan prosesi arak Tumpeng Agung yang dipimpin oleh para pemuka adat sambil menaburkan beras kuning di sepanjang jalan. 

Prosesi Arak Tumpeng Agung Desa Munggugianti 

Puncak acara kegiatan sedekah bumi adalah tibanya rombongan arak Tumpeng Agung di Balai Desa, dan dilanjutkan dengan prosesi doa bersama sebelum hasil bumi tersebut diberikan kepada warga. 

Masyarakat yang sudah menantikan puncak acara tersebut pun telah menunggu di sekeliling Tumpeng Agung untuk berebut hasil bumi dengan membawa kantong dan wadah di tangan mereka untuk menyimpan “hasil rebutan” mereka.

Prosesi “rebutan” hasil bumi itu pun dibantu oleh beberapa anggota Karang Taruna Desa Munggugianti untuk memudahkan warga mengambil hasil bumi yang ada di tumpeng agung.

Sedekah-bumi-3.jpg
Kegiatan sedekah bumi yang melibatkan Generasi Z (Foto: Akmal/TIMES Indonesia).

Acara tersebut pun diiringi oleh nyanyian sinden dan gamelan yang membuat suasana di acara tersebut semakin terasa nuansa khidmatnya. 

Aria Ganna Henryanto, staf pengajar Universitas Ciputra yang menjadi Koordinator Pengabdian Masyarakat IBM SBM UC menambahkan, kegiatan itu dilanjutkan dengan acara pertunjukkan Tari Remo dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Budi Prayitno.

Meski acara berlangsung cukup panjang, para warga pun masih antusias untuk ikut serta dan meramaikan acara tersebut dikarenakan festival sedekah bumi hanya berlangsung setahun sekali. 

“Inisiatif kami untuk menfasilitasi kolaborasi antara karang taruna agar mengambil peran sentral dalam acara sedekah bumi ini ada yakni melalui acara ini semakin memupuk rasa cinta generasi muda terhadap desanya," tambahnya.

Dia berharap, bekal rasa cinta ini bisa mengurangi orientasi untuk urbanisasi dan lebih berpikir untuk pengembangan potensi desanya. Yang kedua, pada saat bersamaan kami mendidik mahasiswa Universitas Ciputra untuk lebih membumi.

"Selain itu juga mengembangkan budaya sharing knowledge kepada Karang Taruna Desa Munggugianti,” ujar dia.

Visi yang ingin dicapai dalam kegiatan Sedekah Bumi Desa Munggugianti adalah melestarikan tradisi desa dan membuat para generasi muda untuk mampu terus menghidupkan warisan budaya yang ada. 

Hal tersebut pun didukung sepenuhnya oleh Universitas Ciputra Surabaya melalui pendampingan penyelenggaraan acara dan juga mengemas segala bentuk kegiatan menjadi konten yang menarik di sosial media agar masyarakat luas bisa mengenal dan menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap kegiatan kebudayaan tersebut. 

Selain itu, harapan yang ingin dicapai adalah menstimulasi perubahan mindset karang taruna untuk lebih berorientasi meningkatkan branding di level regional maupun nasional menjadi naik kelas. Ke depannya dapat mengembangkan potensi budaya Desa Munggugianti menjadi Desa Wisata. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia