Anggota DPRD Bondowoso H Tohari Wacanakan Pemulung Harus Dapat Bantuan
Selama ini tidak ada bantuan yang secara khusus diperuntukkan bagi para pemulung. Oleh karena itu, Anggota DPRD Bondowoso H. Tohari mewacanakan agar mereka mendapatkan ba ...

BONDOWOSO – Selama ini tidak ada bantuan yang secara khusus diperuntukkan bagi para pemulung. Oleh karena itu, Anggota DPRD Bondowoso H. Tohari mewacanakan agar mereka mendapatkan bantuan alat yang bisa mendukung aktivitas mereka.
Bahkan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini telah memulai dengan memberikan bantuan kepada sejumlah pemulung dan atau pengusaha barang bekas, di Kecama Jambesari DS beberapa waktu lalu.
Kepada TIMES Indonesia, Tohari mengatakan, bahwa bantuan yang diberikan untuk pemulung atau pengusaha barang bekas itu dianggarkan dari dana Pokir (pokok-pokok pikiran dewan).
Pihaknya pun mengaku sempat mendiskusikan dengan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan (DPM PTSP dan Naker) soal pemulung. Apakah mereka pengangguran atau tidak.
"Di catatan DPMPTSP itu, pemulung ini dianggap pengangguran. Pemulung itu seakan-akan status sosialnya rendah. Pada hakikatnya mereka itu pengusaha," kata dia.
Menurut dia, pemulung itu adalah pengusaha daur ulang. Bahkan mereka tidak hanya sekedar mendapatkan keuntungan, tetapi secara langsung menjaga lingkungan.
"Makanya dengan adanya pengusaha daur ulang ini, maka barang-barang bekas itu tidak lagi menjadi sampah dan turut menjaga lingkungan," jelas Ketua Fraksi PKB DPRD Bondowoso ini.
Para pengusaha daur ulang itu kata dia, sebenarnya butuh peralatan. Misalnya alat untuk memperbaiki elektronik, alat pemotong besi dan sebagainya.
"Misalnya ada kipas mati, lampu dan semacamnya mati dan itu sudah tidak dibutuhkan, maka di tangan para pengusaha daur ulang ini akan hidup lagi dan bisa diuangkan," kata Tohari.
Selama ini, lanjut dia, selama ini tidak ada yang menganggap pemulung itu adalah pengusaha yang butuh peralatan seperti pengusaha lainnya.
Menurut dia, sebenarnya mereka butuh modal. Sebab keinginan mereka adalah membeli sampah bukan mencari sampah."Tetapi karena tidak ada modal akhirnya mereka mencari," imbuh dia.
Modalnya tidak harus uang. Tetapi barang yang biasanya ditukar dengan sampah. Misalnya wajan, ember dan peralatan dapur lainnya. "Ada istilahnya rup-purup (menukar sampah dengan barang)," jelas dia.
Anggota DPRD Bondowoso H. Tohari tetap akan menganggarkan bantuan untuk pemulung. "Mari kita ganti statusnya menjadi pengusaha," tegas dia saat dikonfirmasi, Senin (7/2/2022). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


