Cerita Tarian Singo Ulung dan Pertengahan Bulan Sya'ban di Bondowoso
Budaya peninggalan leluhur berupa tarian Singo Ulung selalu dihadirkan dalam kegiatan selamatan desa. Kemarin budaya tersebut tampil di acara Selamatan Desa Blimbing, Kec ...

BONDOWOSO – Budaya peninggalan leluhur berupa tarian Singo Ulung selalu dihadirkan dalam kegiatan selamatan desa. Kemarin budaya tersebut tampil di acara Selamatan Desa Blimbing, Kecamatan Klabang yang ke-529.
Penampilan Singo Ulung di selamatan desa tersebut digelar pada Jumat (18/3/2022) kemarin. Sebab berdasarkan tradisi turun temurun kesenian itu ditampilkan di pertengahan Bulan Sya'ban.
Jika kesenian itu ditampilkan sebelum tanggal 15 Sya'ban, maka harus diulang kembali, karena masyarakat setempat menganggap waktu yang sudah ditentukan tersebut sangat sakral dan memiliki keutamaan tersendiri.
Kepala Desa Blimbing, Samin Nur Wahid mengatakan pertunjukan tarian Singo Ulung pada Jumat kemarin, dalam rangka upacara adat bersih desa.
"Pada tahun ini digelar di halaman kantor desa setempat. Ternyata sudah merupakan ke 529 kali digelar di desa kami," kata dia, Minggu (20/3/2022).
Menurutnya, dalam upacara itu diawali pertunjukan enam singo ulung, mereka menampilkan gerakan-gerakan yang mampu menarik perhatian ratusan masyarakat yang hadir.
"Setelah melakukan aksinya, para warga kemudian memberikan saweran kepada para penari Singo Ulung itu," kata dia.
Tak hanya itu kata dia, warga juga melakukan arak-arakan dengan membawa berbagai hasil bumi, menuju Nangger atau tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.
"Nangger adalah tempat ritual untuk menghanyutkan sesaji hasil bumi yang mereka bawa, tepatnya di salah satu sungai yang ada," ungkapnya.
Sebelum menghanyutkan sesajen berupa hasil bumi, para warga memanjatkan doa bersama terlebih dahulu. Hal tersebut dipimpin langsung oleh sesepuh adat di sana.
"Ya untuk mendoakan arwah nenek moyang mereka, serta meminta keselamatan dan limpahan rezeki bagi masyarakat," paparnya.
Menurutnya, upacara adat desa ini memang rutin dilakukan satu tahun satu kali. Bertepatan dengan pertengahan bulan Sya'ban.
Oleh sebab itu, masyarakat rela beramai-ramai memeriahkan upacara tersebut. Terlebih kata dia, para warga meyakini akan mendapatkan limpahan rejeki dan keselamatan.
"Tanggal harus pas malam Sya'ban, termasuk penampilan Singo Ulung. Seandainya tidak tepat, itu bisa selamatan lagi. Karena memang dianggap sangat sakral sama masyarakat," ungkapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


