Pemkot Probolinggo Target Turunkan Prevalensi Stunting Jadi 10 Persen
Pemkot Probolinggo menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 10 atau 11 persen pada 2024. Pada 2021, prevalensi stunting di daerah itu disebut berada di angka 13 ...

PROBOLINGGO – Pemkot Probolinggo menargetkan penurunan prevalensi stunting atau balita kerdil menjadi 10 atau 11 persen pada 2024. Pada 2021, prevalensi stunting di daerah itu disebut berada di angka 13,32 persen.
Target itu mengemuka dalam Rembuk Stunting oleh Bappeda Litbang dan Dinkes P2KB Kota Probolinggo, Kamis (31/3/2022) di Bale Hinggil, Jl Dr. Soetomo, Kota Probolinggo. Target tersebut jauh di bawah nasional, yakni 14 persen pada 2024.
"Tugas kita semua yang hadir sekarang ini, setidaknya bisa mewujudkan penurunan stunting pada tahun 2024 di kisaran 10-11 persen merupakan hal yang istimewa, jauh lebih baik dari yang dicanangkan Presiden RI, yakni 14 persen," kata Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin.
Untuk mencapai target tersebut, dilakukan penandatanganan komitmen bersama oleh Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin, Sekda drg. Ninik Ira Wibawati, Ketua TP PKK Aminah Hadi, beserta stakeholder terkait
Habib Hadi menyatakan, penandatanganan komitmen untuk menurunkan angka stunting, tidak akan mempunyai makna bila tidak ada langkah, gerakan serta gebrakan konkret yang bisa diwujudkan. "Cermati program dan kegiatan penurunan stunting, kemudian action," tegasnya.
Mantan Anggota DPR-RI ini pun berharap setelah rembuk stunting ini berlangsung, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kota, kecamatan dan seluruh kelurahan, berkolaborasi dengan stakeholder terkait di setiap tingkatan.
Bersama-sama melaksanakan delapan aksi konvergensi stunting, sehingga upaya penurunan stunting Kota Probolinggo di angka 10-11 persen hingga tahun 2024 dapat tercapai.
Stunting merupakan persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi badan di bawah minus. Hal ini diukur dengan menggunakan standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh WHO.
Stunting antara lain disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dalam waktu lama, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, dan sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.
Kota Masuk Kategori Hijau, Kabupaten Kuning

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 (https://www.litbang.kemkes.go.id/buku-saku-hasil-studi-status-gizi-indonesia-ssgi-tahun-2021), Kota Probolinggo masuk dalam 15 daerah di Jatim dengan kategori hijau. Yakni daerah dengan prevalensi stunting berada di kisaran 10-20 persen.
Prevalensi stunting Kota Probolinggo menurut data SSGI 2021 adalah 19,0. Dibandingkan daerah tetangga, capaian Kota Probolinggo lebih baik. Prevalensi stunting Kabupaten Probolinggo berada di angka 23,3 atau masuk dalam kategori kuning. Yakni daerah dengan prevalensi antara 20-30 persen.
Prevalensi stunting Kota Pasuruan berada di angka 22,1 persen. Kabupaten Pasuruan di angka 21,5 persen. Situbondo di angka 23,7 persen.
Adapun Lumajang dan Bondowoso, masuk dalam ketegori merah. Yakni daerah dengan prevalensi stunting 30 persen ke atas. Prevalensi stunting Lumajang berada di angka 30,1 persen. Sedangkan Bondowoso di angka 37,0 persen.
Berdasarkan trend, upaya penurunan prevalensi stunting oleh Pemkot Probolinggo menunjukkan hal positif. Pada 2018, prevalensi stunting di kota ini berada di angka 30,5 berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

