Advertisement
Peristiwa Daerah

Ramadan dan Pengalaman 16,5 Jam Berpuasa di Austria

Pepohonan di Kota Tulln, Austria mulai berbunga seiring masuknya musim semi di bulan Ramadan tahun ini. ... ... ...

TIMES Indonesia,
Ramadan dan Pengalaman 16,5 Jam Berpuasa di Austria
Lukmanul Hakim Zaini berfoto di depan Islamic Centre of Vienna. (Foto: Lukman for TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Pepohonan di Kota Tulln, Austria mulai berbunga seiring masuknya musim semi di bulan Ramadan tahun ini. Cuaca yang tidak menentu dengan suhu yang terkadang mencapai 1 derajat tidak mampu menahan kaum Muslimin untuk berangkat shalat tarawih.

Berbondong-bondong mereka menuju Masjid terdekat, meski suasana Ramadan di Negeri dimana komponis dunia seperti Mozard hingga Beethoven tinggal. Memang tidak semeriah suasana Ramadan di Indonesia, namun semangat Kaum Muslimin di Negeri ini begitu menggelora menyambut kedatangan bulan Ramadan.

Advertisement

Lukmanul Hakim Zaini, Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sudah dua tahun ini menjalani tugas belajar di BoKu University Austria ada diantara mereka. Ia memilih shalat tarawih di Masjid terdekat dengan tempat tinggalnya.

"Di dekat tempat tinggal saya, ada Masjid komunitas Bosnia sekitar 1 km dari apartemen saya di sini, kita bisa ikut shalat tarawih di sana," ujar lulusan terbaik Fakultas Kehutanan IPB Tahun 2009 ini.

Sudah dua tahun ini, laki-laki yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kerjasama dan organisasi, Keluarga Alumni HMI  (KAHMI) Eropa Raya ini tinggal di Tulln.

Bedanya tahun lalu ia menjalani ibadah puasa sendirian, namun saat ini ia lebih tenang, karena menjalani ibadah puasa bersama sang istri. "Istri saya datang ke sini bulan November 2021," ujarnya.

Baginya, suasana Ramadan di Austria sangat berbeda dengan di Indonesia. Ramadan di Austria berjalan seperti hari-hari biasa saja. Tidak ada bedug sahur (Patrol) yang keliling ketika waktu sahur tiba, tidak ada kumandang adzan yang terdengar ketika Maghrib tiba.

Advertisement

"Dan yang paling dikangenin adalah suasana ngabuburit yang penuh dengan keramaian orang-orang jajan takjil untuk buka puasa. Di sini, semua takjil harus kita bikin sendiri kalau memang sudah ngidam," ujarnya tertawa.

Meski negeri ini Islam minoritas, menurut Lukman, warga negeri yang menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa Jerman ini cukup ramah terhadap Kaum Muslimin.

Di Vienna (Wina) ada komunitas Muslim Indonesia yang bernama Wapena (Warga Pengajian Austria) yang menyelenggarakan kegiatan Ramadan seperti melakukan kajian agama, berbuka puasa bersama setiap akhir pekan hingga tarawih.

"Sesekali saya ikut," ujarnya sembari menjelaskan bahwa Kota Tulln berjalan sekitar 40 km dari Vienna atau bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan naik kereta. Momen bertemu dengan anggota Wapena ini menjadi pengobat rindu dengan suasana berbuka puasa di Indonesia.

"Kita memasak bareng pelajar Indonesia, kemudian berbuka bareng pelajar Indonesia, kami juga sempat buat video lagu-lagu Islami yang diputar ketika acara buka puasa bersama," ujarnya.

Saat berbuka puasa, tidak hanya menjadi momen kangen-kangenan dengan para pelajar Indonesia, dalam momen ini, kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk menemukan bermacam-macam masakan khas Indonesia.

"Di sini agak susah menemukannya (masakah Khas Indonesia), kalau mau buat sendiri pun harus belanja khusus di toko Asia dan juga di toko Halal," ujarnya.

Waktu puasa pun lebih panjang ketimbang di Indonesia, jika selama ini di tanah air mereka berpuasa selama 12 hingga 13 jam, berpuasa di Austria bisa memakan waktu 16,5 jam. "Yang terpendek 14,5 jam, yang terlama nanti di akhir bulan Ramadan sekitar 16,5 jam," ujarnya.

Hari ini Kaum Muslim di Austria mulai berpuasa sejak datangnya Imsak pukul 04.45 dan mengakhirinya saat Maghrib pukul 19.41. Setelah berbuka, mereka melanjutkan dengan shalat Isya disambung shalat Tarawih.

Jumlah rakaat shalat Tarawih setiap Masjid yang ada pun berbeda, ada yang 8 rakaat plus witir ditambah dengan kajian. Namun ada juga yang 23 rakaat tanpa ceramah. "Kalau yang ada didekat apartemen saya ini (Masjid Bosnia) 23 rakaat tanpa ceramah, karena tanpa ceramah saja, selesainya sudah jam 22.30," jelasnya sambil tersenyum.

Di akhir Ramadan, biasanya para pelajar Indonesia bergabung shalat Idul Fitri di KBRI Wina dilanjutkan dengan silaturahmi. "Idul Fitri tahun lalu juga sama seperti hari biasanya, tetap masuk kuliah seperti biasa," ujarnya.

Seluruh kegiatan keagamaan yang mereka laksanakan di Austria masih menerapkan protokol kesehatan, meski saat ini saat menjalankan shalat sudah tidak lagi berjarak.

Khusus untuk komunitas Muslim Indonesia di Austria ini, ketika mengikuti aktivitas bersama, termasuk saat Ramadan, ada persyaratan yang harus dipenuhi yakni seseorang harus memiliki vaksinasi lengkap dan hasil tes PCR negative dengan jumlah peserta dibatasi maksimal 50 orang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhammad Dhani Rahman
PenulisMuhammad Dhani RahmanPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2022. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia