Indeks Pembangunan Manusia Pangandaran Naik
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pangandaran memaparkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2020 dan 2021 ...

PANGANDARAN – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pangandaran memaparkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2020 dan 2021. Pada sajian data BPS angka indikator pada IPM tahun 2020 tercatat 68,06 dan tahun 2021 naik menjadi 68,28.
Nilai pada indikator dari tahun 2020 ke tahun 2021 untuk Indikator Indeks Pendidikan dan Kesehatan tidak ada yang mengalami penurunan. Namun Indikator Indeks Pengeluaran mengalami penurunan pada tahun 2021 jika dibandingkan tahun 2020 lalu.
Kepala BAPPEDA Pangandaran Agus Satriadi mengatakan, Indikator tersebut diantaranya Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan dan Indeks Pengeluaran.
"Angka pada Indikator Indeks Pendidikan tahun 2020 tercatat 59,33 dan tahun 2021 tercatat 59,72," kata Agus, Sabtu (9/4/2022).
Indikator pada Indeks Pendidikan untuk harapan sekolah tahun 2020 tercatat 12,07 dan tahun 2021 tercatat 12,08.
Sedangkan angka rata-rata lama sekolah pada tahun 2020 tercatat 7,74 dan tahun 2021 tercatat 12,85.
Indikator Indeks Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengukur taraf kualitas non fisik melalui lamanya rata-rata penduduk bersekolah dan angka melek huruf.
Indikator Indeks Kesehatan juga naik, pada tahun 2020 tercatat 79,08 dan tahun 2021 tercatat 79,38," jelas Agus.
Untuk Indikator Indeks Kesehatan terdapat angka Umur Harapan Hidup saat Lahir.
"Angka Umur Harapan Hidup saat Lahir tahun 2020 tercatat 71,40 dan tahun 2021 tercatat 71,60," papar Agus.
Indikator Indeks Kesehatan merupakan salah satu untuk menentukan peringkat Kabupaten/Kota dalam pembangunan kesehatan.
Rumus Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yaitu indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan.
Rumus tersebut didapat dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu Riset Kesehatan Dasar, Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Survei Potensi Desa.
Ada 24 Indikator Indeks Kesehatan yang digunakan diantaranya, prevalensi balita gizi buruk dan kurang, prevalensi balita sangat pendek dan pendek, prevalensi balita sangat kurus dan kurus, prevalensi balita gemuk, prevalensi diare, prevalensi pnemonia, prevalensi hipertensi, prevalensi gangguan mental, prevalensi asma, prevalensi penyakit gigi dan mulut, prevalensi disabilitas, prevalensi cedera, prevalensi penyakit sendi, prevalensi ISPA, proporsi perilaku cuci tangan, proporsi merokok tiap hari, akses air bersih, akses sanitasi, cakupan persalinan oleh nakes, cakupan pemeriksaan neonatal-1, cakupan imunisasi lengkap, cakupan penimbangan balita, ratio Dokter/Puskesmas, dan ratio bidan/desa.
Untuk Indikator Indeks Pengeluaran tahun 2021 menempati angka 67,14 sedangkan sebelumnya di tahun 2020 menempati angka 67,20.
"Pada Indikator Indeks Pengeluaran di Kabupaten Pangandaran menurun yang semula 67,20 menjadi 67,14," terang Agus.
Indikator Indeks Pengeluaran mengalami penurunan disebabkan oleh Covid-19 sehingga berpengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat.
Agus menegaskan, kedepan IPM di Kabupaten Pangandaran sudah mengalami perbaikan.
Capaian itu menjadi perhatian untuk terus diperbaiki supaya efektivitas jalannya pemerintahan semakin baik. Sajian data tersebut merupakan rangkaian RPJMD yang telah disusun lima tahun sebelumnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

