Advertisement
Peristiwa Daerah

Ramadan, Peziarah Padati Makam Mbah Mbatu

Bulan Ramadan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ziarah ke Makam Mbah Mbatu. Setiap hari makam yang ada di Dusun Banaran, Desa/Kecamatan Bumiaji Kota Batu ni ramai ...

TIMES Indonesia,
Ramadan, Peziarah Padati Makam Mbah Mbatu
Peziarah saat membacakan doa Yasin dan Tahlil untuk para leluhur yang diyakini babat alas Kota Batu dan penyebar agama Islam. (foto: Muhammad Dhani Rahman/TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Bulan Ramadan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ziarah ke Makam Mbah Mbatu. Setiap hari makam yang ada di Dusun Banaran, Desa/Kecamatan Bumiaji Kota Batu ni ramai dikunjungi tamu, baik yang datang sendirian atau pun yang berombongan.

Seperti para santriwati Pondok Pesantren di Desa Bumiaji, datang berbondong-bondong ke makam untuk membacakan Yasin dan Tahlil di pusara Dewi Condro Asmoro yang dikenal dengan sebutan Mbah Mbatu, Kiai Naim, Pangeran Rohjoyo dan Dewi Mutmainah.

Advertisement

Mereka mendoakan para leluhur yang diyakini babat alas (membuka) Kota Batu dan menyebarkan Islam di Kota Batu. Namun ada juga yang datang sendirian melakukan hal yang sama, yakni mengirim doa untuk para leluhur ini.

Makam-Mbah-Mbatu-b.jpg

“Mumpung bulan Ramadan, bulan suci, saya sempatkan datang ke sini untuk mengirim doa,” ujar Sarpai, warga Junrejo, Kota Batu. Menurutnya, ia sering datang ke makam ini, terutama saat Jumat Legi untuk melakukan aktivitas yang sama, yakni membaca Yasin dan Tahlil.

Siapa sebenarnya para leluhur tersebut ? Beragam versi cerita beredar saat ini, yang hingga kini masih menjadi diskusi terkait keberadaan mereka.

Salah satu versi diceritakan oleh KRT KH M Musyrifin, pengasuh Padepokan Panatagama Desa Bumiaji. Ia menjelaskan bahwa keberadaan para leluhur ini ada kaitannya dengan peristiwa yang tertulis pada Candrasangkala, yang akrab kita dengar, “Ilang Sirno Kertaning Bhumi”.

Advertisement

Ya.. keberadaan mereka ada kaitannya dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Mbah Mbatu atau Dewi Condro Asmoro, menurut Musyrifin tidak lain adalah Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, istri dari Tumenggung Satim Singomoyo yang dimakamkan di Troloyo Trowulan.

Makam-Mbah-Mbatu-c.jpg

Satim meninggal dunia dalam perang dengan Jenggala Kediri, sementara Dewi Condro Asmoro menyelamatkan diri dengan 100 prajurit, 7 orang emban, satu orang ahli kanuragan, satu orang ahli agama dan satu orang ahli peternakan dan pertanian, termasuk Pangeran Rojoyo Bagus Permadi. Ditempat ini mereka bertemu Kyai Naim yang merupakan pengawal dari Pangeran Diponegoro.

Ditempat barunya ini Dewi Condro Asmoro lebih akrab dipanggil Mbah Tuwo, sehingga dari panggilan inilah akhirnya menjadi nama sebuah Kota Batu.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia