Advertisement
Peristiwa Daerah

Diduga Gagal Perencanaan Bangunan, Broncaptering di Simeulue Dikeluhkan Warga

Sistem Instalasi Pengolahan Air Sederhana atau Broncaptering di Kabupaten Simeulue Aceh usai dibangun beberapa bulan lalu hingga kini belum dapat dimanfaatkan. ... ...

TIMES Indonesia,
Diduga Gagal Perencanaan Bangunan, Broncaptering di Simeulue Dikeluhkan Warga
Broncaptering Desa Lamerem. Bendungan Air di hulu sungai hanya di fondasi setinggi 80x70 cm, dan pipa diikat dipepohonan. (Foto: Kadri/ TIMES Indonesia.
A-AA+

ACEH Diduga salah perencanaan awal sejumlah bangunan Sistem Instalasi Pengolahan Air Sederhana atau Broncaptering di Kabupaten Simeulue Aceh usai dibangun beberapa bulan lalu hingga kini belum dapat dimanfaatkan.

Bangunan Broncaptering yang belum dimanfaatkan sama sekali hingga saat ini terletak di Desa Langi Kecamatan Alafan. Padahal kabarnya bangunan ini sudah dua kali dianggarkan.

Advertisement

Sementara yang terbaru, bangunan Broncaptering di Desa Lamerem Kecamatan Alafan dan Broncaptering di Desa Kota Batu Kecamatan Simeulue Timur. Penulusuran TIMES Indonesia bangunan Broncaptering Kota Batu dikerjakan oleh CV.FD dengan nilai kontrak Rp1.497.000.000.

Broncaptering-2.jpg

Sementara bangunan Broncaptering di Desa Lamerem dikerjakan oleh CV.UD dengan nilai kontrak Rp 2.402.000.000. Keduanya dibangun melalui Sumber Dana Alokasi Khusus (DAK) PUPR Simeulue Tahun Anggaran 2021.

Selain di Desa Langi, kedua Broncaptering itu saat ini dikeluhkan warga setempat karena tidak dapat dimanfaatkan. Padahal baru  4 bulan lalu selesai dibangun. Warga Desa Lamerem yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku sejak awal dibangun Broncaptering hanya beberapa kali airnya mengalir.

"Ini sudah hampir satu bulan air tidak mengalir. Kalau ada hujan baru ada air mengalir dari selang," Ujarnya.

Advertisement

Khusus untuk Desa Lamerem Kecamatan Alafan jika dilihat pembangunannya terkesan dikerjakan asal jadi oleh pihak ketiga. Pipa ditanam dikedalaman 40cm kedalam tanah dan sambungan pipa terlihat bocor. Selain itu pipa diikat dipepohonan dengan tali biasa.  Bendungan air dihulu sungai juga terlihat sangat kecil hanya difondasi sekitar 80x70 cm saja.

Broncaptering-3.jpg

Sementara Tambrin salah seorang warga Desa Kota Batu Kecamatan Simeulue Timur  juga mengeluhkan bangunan Broncaptering di Desanya yang belum bisa dimanfaatkan karena pada sambungan pipa bermasalah. Menurutnya, pada klam penyambungan ke rumah rumahnya dan rumah 14 penduduk lainnya tidak sesuai dengan pipa induk.

"Setelah saya tarik selangnya yang mengarah ke rumah saya. saya bongkar ternyata diklam penyambungan pipa tidak sesuai dengan pipa induk. Tapi anehnya kemarin sudah mereka timbun. Seolah-olah udah siap," ujar Tambrin kepada TIMES Indonesia, Rabu (13/04/2022).

Tambrin berharap agar pipa tersebut segera diperbaiki sehingga dia bersama 14 rumah lainnya dapat segera menikmati aliran air dari bangunan Broncaptering yang baru dibangun itu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia