Advertisement
Peristiwa Daerah

Menilai Tarian Tokuwela, Eko Supriyanto: Harus Dikembangkan di Maluku Utara

Tokuwela adalah salah satu tarian suku Galela di jazirah Halmahera, Maluku Utara yang ada sejak zaman dahulu kala. ... ...

TIMES Indonesia,
Menilai Tarian Tokuwela, Eko Supriyanto: Harus Dikembangkan di Maluku Utara
Dosen Koreografi ISI Surakarta, Eko Supriyanto, pelatih koreografi Tokuwela Morotai Festival 2022 di Kabupaten Pulau Morotai, Sabtu (14/5/2022). (Foto: Endi for TIMES Indonesia)
A-AA+

PULAU MOROTAI Tokuwela adalah salah satu tarian suku Galela di jazirah Halmahera, Maluku Utara yang ada sejak zaman dahulu kala. Tarian Tokuwela biasa disuguhkan pada acara acara adat seperti perkawinan dan ketika menyambut tamu kehormatan.

Tokuwela merupakan tarian yang mengandung makna kebersamaan yang tersirat didalam gerakannya saling menopang antara satu dengan lainnya. Hal tersebut membuat Dosen Koreografi ISI Surakarta, Eko Supriyanto kagum, dan berharap dapat dikembangkan di Maluku Utara.

Advertisement

Lelaki yang akrab disapa Eko Pece ini sudah dua kali mendapat kehormatan dari Pemkab Pulau Morotai melatih koreografi dan menata panggung festival dan sukses mengeksekusinya. Baik Festival Bambu Tada pada 2019 dan Tokuwela Morotai Festival 2022 ini sukses masuk MURI.

"Tokuwela selain upacar adat tetapi juga upacara untuk menyambut tamu, sehingga kami merasa tarian ini menginspirasi setiap orang untuk selalu bisa menerima tamu dengan ramah, menerima dengan ikhlas dan memberikan apa yang mereka punya," ungkap Koreografi Internasional ini.

Ia mengatakan, dalam Tokuwela termasuk tangan sebagai penyangga untuk di injak dan kepala untuk di pegang. Itu yang membuat kami merasa bahwa ini penuh makna, setidaknya bukan hanya untuk Morotai tetapi untuk seluruh Indonesia.

Tokuwela-Morotai-2.jpg

'Ini saat yang tepat untuk bahu-membahu dan saling gotong royong terus menghidupkan Tarian Tokuwela sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang syarat akan filosofi kebersamaan," katanya.

Advertisement

Sebelum memasuki ke Tarian Tokuwela sebagai puncak festival, kata Eko, disuguhkan juga beberapa tarian kolosal Maluku Utara. Antaranya Soya-soya, Cakalele, Dana-dana, Salai, kemudian ada tarian-tarian garapan baru seperti tarian Petani, Nelayan maupun Tari Saloi.

Menurut Dosen Koreografi ini, sebetulnya tarian garapan tersebut bukan timnya yang garap, tetapi digarap oleh anak-anak Morotai yang membuat dengan kreativitas sendiri.

"Untuk mempersiapkan ini semua, butuh waktu 10 hari. Tetapi acara ini kita sudah workshop kan dua kali. Ada dua Minggu workshop, dua kali kita datang untuk memberikan materi materi workshopnya kemudian bahan-bahan mentahnya, 10 hari kemudian baru kita gabungkan jadi satu," paparnya.

Di tim kami, Eko menyebutkan, ada dari pusat unggulan IPTEK ISI Surakarta 15 orang, termasuk penari koreografer, pelatih dan juga komposer musik. Menurutnya, dalam mematangkan persiapan suatu acara tiap daerah punya ciri khas dan punya tantangan yang berbeda.

"Kalau di Kabupaten Pulau Morotai yang paling menantang adalah waktu yang diberikan Pemda kepada kami sangat mendesak alias singkat," sambungnya.

Dosen Koreografi ISI Surakarta Eko Supriyanto berharap, Tarian Tokuwela tidak hanya dikembangkan di Morotai tapi di seluruh Maluku Utara sehingga bisa menjadi jawaban memori tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan dimana saat itu masih eksistensinya Tarian Tokuwela.

"Karena desentralisasi perlu dilakukan oleh seniman juga. Tidak hanya orientasinya pada Jawa, Sumatra atau Bali. Tetapi Maluku Utara karena banyak potensi, harus juga bisa muncul dan menjadi kantong-kantong budaya yang penting," tutupnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Abdul Halil Husain
PenulisAbdul Halil HusainPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2020. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia