Tradisi Gas Desa Perekat Silaturahmi dan Ungkapan Rasa Syukur
Banyak ragam cara yang dilakukan untuk mensyukuri hasil panen dan mempererat tali silaturahmi di Indonesia. Demikian halnya yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Blora ...

BLORA – Banyak ragam cara yang dilakukan untuk mensyukuri hasil panen dan mempererat tali silaturahmi di Indonesia. Demikian halnya yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Salah satunya yakni dengan gelar tradisi leluhur setahun sekali yang disebut Gas Desa atau secara umumnya disebut sedekah Bumi.
Ciri khas gas desa, umumnya dilakukan usai panen pada hari tertentu sesuai pasaran Jawa. Mereka membuat beragam olahan makanan dan jajanan tradisional diantaranya Pasung, Boges, Dumbeg, Tape Ketan, dll.
Tiap Desa melakukan tradisi serupa, namun terkadang ada pembeda satu sama lain. Hal ini kembali lagi sesuai apa yang sudah diwariskan oleh leluhur. Demikian halnya seperti yang dilakukan oleh Desa Bacem Kecamatan Jepon.

Sarmini, Kepala Desa Bacem mengatakan bahwa tradisi ditempatnya dimulai dengan melakukan bancakan atau kajatan di Sendang.
"Hasil olahan makanan dan jajan tradisional serta buah buahan dibawa tiap warga ke Sendang. Disana dikumpulkan jadi satu didoakan, kemudian di bagi siapa saja yang hadir di acara bancakan," jelasnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (3/6/2022).
Sarmini menyatakan bahwa antusias warga kali ini sangat luar biasa. Dirinya menyebut hal ini dimungkinkan karena 2 tahun masa pandemi, sedekah bumi dilakukan secara terbatas.
"Harapannya gas desa tahun ini, pandemi segera berlalu, kampung ini lebih aman, hasil bumi berikutnya lebih melimpah. Biasanya pasca gas desa, warga kerjanya menjadi lebih giat lagi," imbuhnya.
Sarmini melanjutkan bahwa gas desa adalah ajang syukuran yang sangat efektif untuk menjalin silaturahmi. "Saat gas desa, semua warga kumpul disatu titik untuk kajatan atau bancakan. Jadi yang semula tidak kenal menjadi kenal," ungkapnya.

Sementara itu Fitri, warga setempat menyatakan tahun ini sangat ramai. Terlebih tahun ini gas desa disertai hiburan seperti sebelum pandemi.
"Di dukuh Manyaran ada dangdut, dan di dukuh Bacem ada Ketoprak," jelasnya.
Fitri menambahkan bahwa gas desa kali ini tamu yang hadir di desa nya sangat banyak.
"Banyak sekali yang datang. Tiap rumah menjamu tamu, baik dari teman sekolah, rekan kerja, kenalan, hingga sanak saudara yang mudik dari luar kota," ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

